MENATAP BINTANG di LANGIT LUWUK – Bagian 1

Posted: November 13, 2013 in Menatap Bintang di Langit Luwuk

MBDLL - PromoSUDAH beberapa hari ini Putra muak sendiri mendengar suara anak kucing mengeong yang merupakan pertanda ada pesan teks masuk di ponselnya. Suara mengeong yang seharusnya terdengar sangat menggemaskan berubah menjadi begitu mengganggu terutama sejak Dewo sering mengirim pesan teks berkali-kali membahas tema yang sama. Bayangkan saja! sejak tadi pagi terhitung sudah hampir seratus kali Dewo mengirim pesan teks memaksa Putra untuk terlibat dalam pikiran temannya yang seperti sedang kebingungan. kebingungan yang nyaris gila lebih tepatnya. Belum lagi gangguan di Yahoo messengernya yang juga datang dari Dewo. Percuma membuatnya tampak offline karena Dewo tahu, Putra tak mungkin tak online mengingat pekerjaannya banyak bergantung pada fasilitas messenger dari Yahoo tersebut. Nyaris gila! itu yang dirasakan Putra. Tenggat waktu laporannya sudah hampir habis dan dia mengkalkulasi sendiri kalau dia baru menyelesaikan kurang dari separuhnya akibat konsentrasinya yang terpecah.

“Gimana??? udah bilang sama bos lo belom???” tanya Dewo lewat sms.

“Soal apa?” balas Putra pura-pura bego.

“soal cutiiiiiiiiiiiiiiiiiii!!! udah dapet belooooooooooooom???!!”

Putra tak menjawab. dia melempar ponselnya ke dalam laci mejanya dan menguncinya puas.

Sepuluh menit tak mendapat respon, Dewo memancing keributan lewat Yahoo Messenger.

Dewo_tampan:”Buzz!!”

Dewo_tampan:”B”

Dewo_tampan:”U”

Dewo_tampan:”Z”

Dewo_tampan:”Z”

Dewo_tampan:”BUZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZ”

Dewo_tampan:”HEH! JAWAAAAAAAAAAAAB!!!! JANGAN KABUR LOOOOOOOO!!!”

Putra_thea:”Gue lagi kerja nyet!! lo mau tanggung jawab kalo gue dimarahin boss??”

Dewo_tampan: “bakar aja bos loooooooo… kalo dia ampe marahin loooo…..”

Kesal merasa terganggu, Putra melakukan sesuatu terhadap fasilitas pesan instan di komputernya dan berharap gangguan dari Dewo segera berakhir. Ketenangan yang dia dapat tak sampai satu menit sampai Dewo mengirim pesan instan lagi.

Dewo_tampan: “Heh! gue tau lo di inviiiiiiiiiiiiiiiiiisssss!! jawaaaaaaaaaaaaaabbb… cepeeeeeeeeeeeettt!!!”

Agak marah, Putra menutup layar laptopnya dengan sedikit bantingan hingga otomatis berubah kondisi menjadi hibernasi. Melirik arlojinya dia menyadari bahwa sudah lewat sepuluh menit dari jam dua belas. Mendadak perutnya merasa lapar dan dia berpikir untuk makan siang. Dengan reflek dia membuka laci meja kerjanya hendak mengambil kembali ponselnya. Tapi gerakannya terhenti saat dia melihat selembar formulir permohonan cuti yang tiga hari lalu dimintanya dari bagian HRD. Tujuh hari. Bayangkan! Tujuh hari! itu sama saja meminta lebih dari separuh jatah cutinya dikantor. Tidak tanggung-tanggung Dewo, sahabatnya itu meminta Putra mengambil cuti sebanyak itu dari kantornya. Apa dia tidak tahu kalau sangat sulit meminta cuti sepanjang itu, berturut-turut pula dari atasannya? Apalagi belum ada dua tahun Putra bekerja di kantornya yang sekarang, walau sebenarnya hak cuti penuh sudah mulai didapatnya sejak tahun kedua.

Lebih baik aku pakai untuk liburan sendiri nanti menjelang akhir tahun! begitu pikir Putra. Malaysia, Singapura, atau mungkin Thailand, sudah menjadi target liburan Putra menghabiskan jatah cutinya sebagai backpacker. Tapi dia sadar. Sangat sulit menolak keinginan Dewo. Walaupun Dewo jugalah yang menjadi alasan utama Putra pindah dari tempat kerjanya yang lama.

“Lo mau resign?” tanya Dewo tak percaya saat Putra mengutarakan niatnya satu setengah tahun lalu.

Putra mengangguk.

“Lo gak kasian sama gue? we’re partner in crime, Put! cuma lo yang ngerti gue! gue musti gimana nanti?” rengek Dewo sedih yang Putra tahu itu hanyalah rengekan manja pura-pura dari sahabatnya.

“Loh? kita kan masih temanan?” tanya Putra.

“Gak akan sama kalau kita masih sekantor!” sergah Dewo.

Tapi keinginan Putra tidak bisa dibendung, walau dengan rengekan Dewo sekalipun. Berbagai usaha dilakukan Dewo agar sahabatnya mengurungkan niat untuk hengkang ke tempat kerja lain, termasuk memaksa pimpinannya untuk mempertimbangkan kenaikan gaji bahkan promosi! Dewo tidak tahu kalau sebenarnya alasan utama Putra meninggalkannya adalah karena dia.

Bersahabat sejak bangku kuliah membuat mereka berdua seperti tak terpisahkan. Terlebih sejak mereka sama-sama mengaku kalau mereka berdua adalah gay! ya! terang saja Dewo berkata tak ada lagi yang mengerti dirinya selain Putra. Tapi Putra sudah bosan dengan kisah stereotip yang dialaminya. Dua anak manusia, yang sangat cocok bersahabat tetapi dinodai oleh rasa suka diam-diam oleh salah satu pihak yang tidak pernah terbalas. Yang satu pendiam, yang satu sangat populer. Dan itu yang dialami Putra sejak berteman dengan Dewo. Bosan rasanya melihatnya begitu gampang pindah dari satu pria ke pria yang lain untuk berpacaran maupun untuk bersenang-senang. Putra selalu menahan diri walau bukannya dia tidak pernah berusaha bersenang-senang pula. Tapi sepertinya kondisi dia yang diperbudak cinta terpendam kepada sahabatnya membuat Putra lebih suka menutup hati apabila ada pria yang mengajaknya berhubungan lebih serius. Bosan pula rasanya dimanfaatkan Dewo sebagai penyelamat apabila dia terjebak pada pertemuan atau kencan dengan seseorang yang ternyata tidak dia sukai.

“Inget! kalo gue misscall elo berati gue butuh bantuan! se-ce-pat-nya!”

Begitu pesan Dewo setiap dia hendak bertemu dengan seseorang yang dia kenal dari dunia maya. Entah sedang melakukan pekerjaan lain, belajar di kamar kos, atau saat lembur mendadak, tak pernah sekalipun Putra absen menolong Dewo dari kencan malapetaka. Saat Dewo merasa tidak cocok, terjebak dalam pertemuan membosankan, atau mungkin berkenalan dengan orang sakit jiwa, maka Dewo akan meminta bantuan Putra untuk datang ke tempatnya untuk memaksanya pergi. Terlalu pengecut? atau mungkin juga Dewo adalah pribadi yang kerap merasa bersalah terhadap orang lain apabila terpaksa mengakhiri kencan? Tapi Putra tak pernah menanyakan alasan Dewo selalu memanfaatkan dirinya untuk menyelamatkannya. Semua dia lakukan karena di sayang kepada Dewo.

“Kenapa lagi sekarang? mukanya tuh cowok ga simetris? kuping kanan lebih besar dari kuping kiri? atau ternyata umurnya jauh lebih tua dari foto yang dia kirim?” tanya Putra asal-asalan suatu ketika setelah mereka keluar dari sebuah klub malam dalam rangka menyelamatkan Dewo dari kencan mengerikan.

“Psikopat Put! sakit! bener-bener sakit! lo perhatiin gak tas ransel yang dia bawa? didalemnya ada cemetinya Put! dan dia bilang gak tanggung-tanggung ngegunainnya!” desis Dewo sambil bergidik.

“Lain kali, gue gak bakal nyelamatin lo kalo sekiranya lo kenalan sama orang sakit jiwa! biar diperkosa sekalian!” sungut Putra kesal sambil membuka pintu mobilnya.

Sejak kuliah hingga keduanya bekerja di kantor yang sama membuat mereka memilih tinggal bersama pula. Dari mulai sebuah kamar kos kecil hingga menyewa sebuah apartemen studio yang tidak terlalu mewah saat sama-sama meniti karir. Ada momen-momen yang tidak bisa Putra lupakan. Walaupun Dewo dengan tegas menyatakan bahwa dia sayang Putra sebagai sahabat, tapi kadang beberapa perlakuannya kepada Putra membuatnya melambungkan harapan yang terlampau tinggi bahwa suatu saat Dewo akan membalas cintanya. Seperti misalnya, walau mereka tidur di ranjang terpisah, tak jarang Dewo selalu meminta Putra untuk menemaninya. Bahkan seringkali Dewo memeluk Putra (untuk yang satu ini, Putra biasanya tidak mau melepaskan momen indah itu dan memilih untuk tidak tertidur hingga berakibat keesokannya dia mengantuk sepanjang hari). Atau misalnya, saat makan berdua di kamar tak segan-segan Dewo menyuapkan makanan kepada Putra. Hal-hal yang terlihat romantis itu mungkin biasa saja dilakukan oleh Dewo, tapi enggan dilakoni oleh Putra. Putra takut, Dewo akan salah paham dan mungkin akan merasa dikhianati apabila dia tahu kalau Putra ternyata menyukainya kalau dia juga membalas kemesraan semu Dewo.

Dewo adalah cowok populer. Populer di kampus, kini populer di tempatnya bekerja, populer diantara orang-orang yang hobi bermain futsal, dan bahkan populer di pusat kebugaran walau dia sendiri hampir tidak pernah ke pusat kebugaran. Bagaimana bisa dia populer di pusat kebugaran?

“Gym cuma buat homo!” sahutnya enteng suatu hari. Lho? bukannya Dewo juga homo? Benar. Tapi dia memang lebih suka menjaga tubuhnya yang tinggi atletis dengan berolahraga futsal dan renang dibandingkan mendaftarkan diri menjadi member pusat kebugaran dan menghabiskan waktu berjam-jam di sana.

“Gue gak suka aja kalo gue lagi telanjang bodi gue dipelototin sama orang-orang sampai mikir macam-macam.” begitu alasannya. Aneh, tapi itulah Dewo. Reputasinya sebagai badboy-playboy juga menjalar ke pusat-pusat kebugaran karena Dewo beberapa kali mengencani membernya.

****

BAGAIMANA dengan Putra? si cowok yang diam-diam menyukai sahabatnya sendiri itu? motivasinya dalam menjalani hidup cukup sederhana dan tidak macam-macam: menempuh pendidikan yang baik, mendapat nilai terbaik, bekerja di perusahaan dengan posisi yang baik, menabung untuk investasi dan membuka usaha di kemudian hari. Dia juga masih heran bagaimana dia bisa begitu akrab dengan Dewo saat kuliah dulu. Mungkin benar kata orang, kalau sebenarnya dua orang bisa menjadi pasangan terbaik, bersahabat dengan baik, bukan karena banyaknya kesamaan di antara mereka. Melainkan bagaimana perbedaan yang ada malah akan saling melengkapi. Putra sangat serius dalam mengerjakan apapun. Sedangkan Dewo bisa dibilang sangat santai. Itulah sebabnya, Dewo bisa menjaga keseriusannya dalam menyelesaikan kuliah karena pengaruh Putra, dan Putra  bisa sedikit santai ketika Dewo berhasil membujuknya untuk melupakan tugas-tugas kuliahnya untuk sementara.

Putra yang pendiam tak sepopuler Dewo. Bukannya dia tidak menarik, Putra tergolong tampan. Hanya saja Putra lebih suka menyembunyikan matanya yang tajam dengan kacamata model kuno dan potongan rambut yang tidak mutakhir. Walaupun memang, tubuh Putra lebih kurus dan tidak atletis seperti Dewo. Memang sudah sifatnya demikian, meskipun sejak bersahabat dengan Dewo, Putra tak lagi sepemalu pertama kali dia masuk kuliah.Dia sudah tidak sanggup lagi berharap banyak dari Dewo. Itulah sebabnya dia memutuskan untuk mencari peruntungan karir di tempat lain sekaligus untuk melupakannya. Bukan melupakan sebagai sahabat, tapi berusaha melupakan perasaannya kepada Dewo dan berharap suatu hari nanti, yang tersisa hanyalah rasa sayang terhadap sahabat. Mungkin sepertinya mustahil, tapi bagi Putra itulah yang bisa dia jalani sekarang ini.

Putra tidak ingin lagi merasa sakit ketika terpaksa harus mengasingkan diri saat Dewo membawa kekasih atau partner tidurnya ke kamar kost mereka. Hal ini sudah diprotes berkali-kali oleh Putra, tapi Dewo belum bisa menemukan alasan mengapa Putra harus keberatan. Toh, Dewo tidak menggunakan ranjang Putra dan hanya beraktivitas pada sisi kamarnya. Atau ketika Dewo datang bersama seorang cowok padahal sudah larut malam dan tak bisa ‘mengusir’ Putra yang sudah tertidur. Terpaksa Putra pura-pura tidur menghadap dinding sambil memakai earphone iPod miliknya walau dia sangat cemburu dan hatinya remuk menahan tangis mendengar desah-lenguhan aktivitas Dewo bersama pasangannya di ranjang sebelah.

“Sori bro… kalau gue terpaksa, sebisa mungkin bakal pelan-pelan dan gak bakal berisik.” ujar Dewo keesokan paginya meminta maaf.

Putra tak menjawab. Dia berusaha terlihat kesal yang murni kesal bukan kesal karena cemburu. Tapi pada kenyataannya Putra selalu cemburu kepada pria-pria yang berhasil tidur dengan Dewo. Sepertinya tak ada satupun dari mereka yang berniat serius dengan Dewo. Semuanya hanya bermotif nafsu. Dan Dewo bisa sedih berhari-hari ketika dia berharap banyak pada seseorang untuk menjalin hubungan serius, si cowok yang dikenalnya itu menghilang begitu saja. Ingin rasanya Putra menampar Dewo dan memberitahukan padanya bahwa satu-satunya orang yang tulus mencintainya adalah dirinya. Tapi seperti biasa, Putra tak pernah punya keberanian untuk melakukan itu. Itulah sebabnya Putra harus pergi. Tak ada alasan lagi harus mendampingi Dewo. Sekali-kali Putra ingin egois. Dia tidak mau berada di sisi Dewo ketika akhirnya dia mendapatkan jodohnya. Terbayang sudah betapa sakitnya ketika hari itu tiba. Cukup! Putra ingin mendukungnya dari jauh saja. Hanya sebagai sahabat. Tak lebih.

“Kenapa harus pindah tempat tinggal segala sih?” Tanya Dewo.

Putra hanya mengangkat bahu. Tak mungkin dia menjelaskan kalau pindah kerja dan pindah tempat tinggal adalah untuk menjauh dari Dewo.

“Lo marah ya sama gue? gue salah apa ya?” rengek Dewo.

“Enggak Wo! gue gak marah sama elo. Cuma, gue merasa gue harus memulainya sendiri. Kita udah terlalu sering bersama-sama. Gue pengen coba menaklukan tantangan kerja dan hidup dengan diri gue sendiri tanpa bantuan orang lain.”

“Tapi lebih mudah kalau ada yang support kan?!” protes Dewo dengan nada suara yang makin meninggi.

“Iya Wo… tapi gue ngerasa gue terlalu bergantung sama elo. Kadang-kadang gue pengen ngatasi masalah gue sendiri, nyari solusi, murni dari otak gue. Gue pengen ngelatih otak gue buat memecahkan masalah. Lagipula sampai kapan memangnya? toh cepat atau lambat kita bakalan pisah juga Wo!.

Dewo masih tidak menerima alasan Putra. Sebagai bentuk protes, ketika Putra harus mengemasi barangnya dan pindah. Dewo sama sekali tidak mau membantu. Dia malah asyik nonton tivi. Sementara beberapa kawan mereka berdua membantu Putra berkemas dan memindahkan barang-barangnya.

“Lo tega Wo! masa segitu ngambeknya gak mau bantuin?” sindir Yuri sambil membawa kardus berisi buku-buku milik Putra.

Dewo tidak bereaksi. Sudah beberapa kali teman-temannya menyindir Dewo dan berusaha membuatnya tergerak membantu Putra. Teman-teman mereka berdua paham kalau Dewo marah dan tidak suka dengan kepindahan Putra. Tetapi bukankah seharusnya tidak membuat Putra lebih sedih dengan mengabaikannya sepanjang hari? tak mau menyapanya sedari pagi? sahabat macam apa itu? pikir teman-temannya. Putra pun merasa tertekan tak diacuhkan oleh Dewo sejak beberapa hari sebelumnya setelah dia memberitahukan tanggal kepindahannya. Puncaknya adalah hari itu. Dewo tidak berbicara dengannya sejak pagi tadi saat Putra mulai membereskan barang-barangnya. Tapi keputusan Putra sudah bulat. Dewo tidak bisa menghentikannya. Ketika akhirnya tinggal sebuah kardus kecil yang harus Putra angkat, dia berkata pada Dewo yang sedang berdiri sambil mengaduk secangkir kopi.

“Wo… gue minta maaf udah ngecewain elo. Maafin juga kalau selama ini gue ada salah sama elo.” Suara Putra tercekat menahan sedih, berharap untuk sekali saja Dewo mau menatap matanya. Dewo diam saja.

Tanpa pikir panjang Putra membanting kardus yang dia pegang dan menghambur ke arah Dewo dan memeluknya erat dari belakang. “Maafin gue Wo…” ujarnya pelan sambil terisak. Tapi dewo tidak bereaksi.

Menyerah dengan sikap sahabatnya, Putra melepaskan pelukannya dan mengambil kembali kardus yang dia tinggalkan menuju pintu. Di depan pintu dia menoleh ke arah Dewo yang masih terdiam memunggunginya. Sambil menunduk sedih, Putra menaruh kunci kamar miliknya di sebuah meja dekat pintu dan menutup pintu.

****

Kardus terakhir begitu berat untuk diangkat sendirian. Putra dibantu kedua temannya akhirnya berhasil menurunkan kardus berisi buku-buku koleksi Putra dari dalam mobil. Setelah mengelap keringat di dahi dan menghela nafas lega, Putra bertolak pinggang menengadahkan wajahnya ke atas. Ini dia! apartemen baru tempat dia akan tinggal. Sendiri. Tanpa Dewo. Dia tersenyum bahagia tetapi sedikit sedih karena berharap Dewo bisa bersamanya di saat-saat seperti ini.

Gedung Apartemen itu terletak di luar jalan utama. Dekat perbatasan kota. Tapi Putra suka. Selain lalu lintasnya tidak terlalu padat, aksesnya sangat dekat dengan stasiun kereta dan pusat perbelanjaan. Keputusan Putra untuk mulai mencicil apartemen itu dia rasakan sungguh setimpal. AKhirnya dia bisa memiliki tempat tinggal sendiri. Miliknya sendiri! jeritnya dalam hati. Ketika Putra tersenyum-senyum sendiri, dia mendengar suara motor mendekat. Suara motor yang sangat dia hafal karena sering dia dengar. Suara itu berasal dari motor Dewo! Putra menoleh dan benar saja Dewo yang datang dengan motor Kawasaki hitamnya.

“Wah.. gue beruntung yah? gak perlu ngangkat kardus berat-berat? sekarang tinggal makan-makan kan?” tanya Dewo sambil menatap Putra. Dia berdiri di samping motornya. Berkaus merah, berjaket kulit, dan terlihat tampan! sangat tampan!

“Yang gak ikut bantu gak dapat jatah traktiran makan!” sahut Putra pura-pura marah.

“Ah.. gapapa.. tapi minumnya tetep dapet kan?” tanya Dewo sambil berjalan ke arah Putra sambil tersenyum manis.

Begitu sampai di dekat sahabatnya, Dewo tak ragu memeluk Putra erat. Membalas pelukan dari sahabatnya satu jam lalu. “Maafin gue ya? maafin karena udah jadi temen yang brengsek…” ucap Dewo yang hanya bisa didengar oleh Putra. Tangannya menepuk-nepuk punggung Putra. Putra mengangguk-angguk kuat sambil tersenyum bahagia. Kejadian mengharukan itu disaksikan teman-teman mereka berdua yang sudah paham bagaimana eratnya persahabatan mereka.

Advertisements
Comments
  1. xander says:

    baru tau ini penulisnya sama dgn penulis cerita remy…..semoga penulisnya lagi kaya inspirasi ….sudah lama nunggu cerita ni tamat…..

  2. yubdi says:

    wah seru… ad lanjutannya kan ini ya?

  3. Haki says:

    Bang, puny akun Wattpad ga? boleh ga aku nge-Post ulang cerita yang ini?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s