Archive for November, 2013

MBDLL - 2SEBENARNYA tak ada niat pula dari Putra untuk menjauhi Dewo. Dia berharap tetap intens berkomunikasi dengan sahabatnya. Tapi mungkin secara psikis, Putra sepertinya mulai menutup diri dari Dewo. Awalnya mereka masih sering makan bareng, janjian nonton film di bioskop bersama, ataupun saling menelepon. Lama-lama Putra sering beralasan banyak acara, atau Dewo yang mendadak membatalkan janji mereka karena harus bertemu dengan seseorang. Ingin rasanya Putra kembali bertugas sebagai penyelamat kencan-malapetaka Dewo sekaligus berharap semua kencan Dewo adalah kencan malapetaka. Tapi Dewo tak pernah lagi meminta bantuannya. Diam-diam Putra sedih karena mungkin saja Dewo mendapatkan jodohnya dan dimiliki oleh orang lain. Putra pun mulai berkencan. Dia mulai mengenal beberapa pria dan berusaha untuk berkencan dengan mereka. Tak hanya itu. Putra kini mulai memperhatikan penampilan. Selain dituntut oleh bosnya untuk selalu berpenampilan terbaik karena pekerjaannya berhubungan dengan banyak klien, Putra juga berharap bisa membuatnya mengalihkan pikirannya dari Dewo. Itu sebabnya dia kini tercatat sebagai member sebuah pusat kebugaran. Rutin melatih tubuhnya walau dia masih ingat kata-kata Dewo bahwa Gym hanya untuk homo. Memang tidak salah kan? aku memang homo! ujar Putra. Akhirnya, tiga bulan ternyata cukup untuk membuat mereka berjauhan. (more…)

Advertisements

imageskkCerita sebelumnya: Bastian menemukan kenikmatan baru: Bercinta dengan anaknya sendiri yang masih remaja bernama Steve. Hubungan terlarang itu diperparah ketika Bastian juga “menggarap” Nico, ABG sahabat baik Steve. Setelah sesi bercinta yang panas dengan Steve, Bastian tanpa sengaja menyebut nama Nico…

(more…)

MBDLL - PromoSUDAH beberapa hari ini Putra muak sendiri mendengar suara anak kucing mengeong yang merupakan pertanda ada pesan teks masuk di ponselnya. Suara mengeong yang seharusnya terdengar sangat menggemaskan berubah menjadi begitu mengganggu terutama sejak Dewo sering mengirim pesan teks berkali-kali membahas tema yang sama. Bayangkan saja! sejak tadi pagi terhitung sudah hampir seratus kali Dewo mengirim pesan teks memaksa Putra untuk terlibat dalam pikiran temannya yang seperti sedang kebingungan. kebingungan yang nyaris gila lebih tepatnya. Belum lagi gangguan di Yahoo messengernya yang juga datang dari Dewo. Percuma membuatnya tampak offline karena Dewo tahu, Putra tak mungkin tak online mengingat pekerjaannya banyak bergantung pada fasilitas messenger dari Yahoo tersebut. Nyaris gila! itu yang dirasakan Putra. Tenggat waktu laporannya sudah hampir habis dan dia mengkalkulasi sendiri kalau dia baru menyelesaikan kurang dari separuhnya akibat konsentrasinya yang terpecah. (more…)

27721_116235415070521_100000521883354_183171_4923177_nMATAKU terkantuk-kantuk menatap detik jam weker yang sedari tadi kupegang di atas ranjang. Rasanya tiap gerakan jarum penunjuk detiknya terasa lama sekali. Bodohnya aku! tadi malahan tidak sempat menanyakan nomor hape Mas Bima saat dia datang. Sekarang, malahan aku yang tersiksa karena sudah hampir jam sebelas malam belum ada tanda-tanda Mas Bima akan datang.

Aku memukul-mukul kasur kesal. Ah! apa mungkin kedatangan Mas Bima tadi sore cuma mimpi ya? Arrrgggh… aku mengacak-acak sprei kesal. Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu.

“Fin.. Findra…”

Suara ibu kos. Tumben.

“Ya, Bu?”

Ternyata Mas Bima datang ditemani ibu kos. Aku mendelik sedikit kesal pada Mas Bima. Tapi hatiku langsung meleleh melihatnya datang dengan jeans, kaus hitam ketat yang membuat dada bidangnya membusung, dan jaket kulit yang membuatnya tampak keren! (more…)

734019_221056691367274_584851638_nSESAAT setelah Bastian bercinta dengan Nico, remaja teman anaknya sendiri yang bernama Steve, mereka terkejut karena Steve kembali ke rumah.

“Paah…!” seru Steve di bawah. “Ada Nico ya? kok sepatunya ada di depan?” teriaknya. Terdengar langkah kaki menapaki tangga menuju kamar Bastian.

Ketika Steve melihat pintu kamar ayahnya sedikit terbuka, Dia hendak membukanya lebih lebar. Tapi seseorang telah mendorong pintu itu begitu keras hingga membentur kepala Steve. Steve mendadak kehilangan keseimbangan. Pandangannya kabur dan diapun tak sadarkan diri.

“Aduuuh Ooom… Steve nya kan jadi pingsan..” ringis Nico ketakutan. Dia berusaha menutupi tubuhnya dengan pakaiannya.

“Kamu mau kita ketahuan, hah?” hardik Bastian. Dia sendiri masih dalam keadaan telanjang bulat.

Nico menggeleng.

“Sudah.. kamu cepet rapihin diri sebelum Steve bangun. Saya pindahin dia ke sofa bawah.” kata Bastian. Diapun mengangkat tubuh Steve yang terkulai. (more…)