Bercinta dengan Kakak Ipar – Part II (Bagian 3)

Posted: October 13, 2013 in Cerita Abang Ipar

59724_334659596651552_1569220991_n“Kau yakin soal ini?” tanyaku, sesaat setelah keluar dari dalam truk milik Shep.

“Aku yakin. Sudah waktunya, Billy. Aku tak bisa terus-terusan sembunyi.”

Shep menutup pintu mobil dan aku menjajari langkahnya menuju teras depan rumah milik orangtua Shep. Aku tak pernah pergi ke rumah di mana Shep tumbuh. Daerah tempat tinggal Shep terdiri dari beberapa blok. Semua rumah di situ terlihat sama.

Aku menatap Shep, menghentikan langkahnya di trotoar sebelum kami tiba di teras. “Shep, aku tak mau kalau kau melakukannya karena terpaksa. Aku tak bermaksud untuk memaksamu.”

“Aku tahu, sayang. Malah sebenarnya, hubungan kita sudah bukan rahasia lagi. Makin banyak orang yang tahu soal kita. Keluargamu, teman kantor… Ayah dan Ibu akan tahu juga cepat atau lambat, itu kalau Wendy belum memberitahu mereka.”

“Mungkin lebih baik kalau hanya kau dan orangtuamu saja.”

“Dasar penakut.”

“Benar! aku penakut!”

Aku menarik nafas dalam-dalam saat berdiri di depan pintu rumah. Rumah itu bergaya pedesaan dengan banyak nuansa biru. Keramik bergaya lama di lantai depan pintu menarik perhatianku saat aku berusaha mengendurkan syaraf-syarafku yang tegang.

Shep mengetuk pintu dan mendorongnya. “Halo?”

Ibunda Shep bergegas menuju pintu menyambut kami. “Shep, sayang.” Dia mencium pipi Shep dan menoleh kepadaku. “Halo.”

“Ma, kau ingat dengan Billy Harper?”

“Tentu. Si anak tengah.”

Aku mengangguk dan tersenyum padanya, berharap dia tak melihat kegugupanku. “Ya, benar. Senang bertemu anda kembali.”

Ibunda Shep menatapku dan Shep bergantian. Kemudian dia mengalihkan pandangannya. “Aku sedang membuat kopi,” gumamnya lalu menghilang.

Sial. Dia curiga ada sesuatu.

Aku menatap Shep dan dia mengangkat bahu. Kuraih lengannya dan berbisik pada telinganya, “Ini ide yang buruk.”

“Hey, Pa,” ujar Shep menghampiri ayahnya dan mengulurkan tangannya.

Pria tua itu mendongak dan membalas uluran tangan Shep. “Duduklah, ada pertandingan di TV.”

Ayah Shep kembali menonton televisi, mengabaikan aku dan aku melangkah mundur berlindung di belakang tubuh Shep. Aku tidak merasakan kehangatan dari Tn Bannister.

Ibunda Shep duduk di kursi lain sementara aku dan Shep duduk di sofa. Kakiku bergerak-gerak gugup dan kupegang erat dalam usahaku mengendalikan kekhawatiranku. Aku menyeruput kopi dari gelas dan meletakkannya kembali di meja.

“Jadi,” kata Shep. Dia menarik nafas dalam-dalam. “Aku datang untuk membicarakan sesuatu yang penting dengan kalian.”

Ayah Shep mengalihkan pandangannya dari televisi dan menatap anaknya.

Shep berdeham. “Jadi.. kalian tahu kalau aku tinggal bersama Billy sejak berpisah dengan Wendy…”

Tn Bannister mengerutkan dahi. Kekecewaan tampak jelas di wajahnya.

“Shep,” ujarku memotong pembicaraan. Kugelengkan kepalaku padanya.

Shep mengabaikan aku. Dia meraih tanganku dan menggenggamnya erat. “Aku dan Billy… uh, kami berpacaran.”

Ibunda Shep terlonjak. Tn Bannister menarik alisnya dan menatap kami dalam kebingungan.

“Pa. Ma. Aku gay.”

Wajah Tn Bannister memerah.

“Pah–”

“Kupikir kalian harus pergi.”

Aku menatap Shep dan segera bangun. Shep menarikku kembali duduk. “Dengar, Pa. Aku tahu kau tak ingin mendengar ini, tapi Papa harus.”

Tn Bannister menatapku galak saat dia berbicara pada Shep. “Kau tak pernah mau dengar, kan? Sudah kusuruh kau jauh-jauh dari dia. Dan sekarang kau biarkan dia mengubah kau menjadi–”

Aku tak tahan hanya diam di situ dan menerima ini semua. Tanpa bisa kukendalikan, aku berujar, “Aku tak mengubah Shep jadi gay. Dia memang sudah gay dari dulu.”

Waktu serasa berhenti dan semua orang seperti beku di tempatnya masing-masing.

Ayah Shep bangkit dari duduknya. “Apa kau bilang? kau mau bilang kalau ini salah kami? dasar homo kurang ajar– aku tak terima ini– tidak di rumahku sendiri!”

Ayah Shep menggengam tangannya berusaha meninjuku. Secara reflek aku bangkit dan mundur.

“Pah!” teriak Shep. “Ayolah. Kita bicarakan hal ini–”

Ayah Shep mendorong lengan anaknya dan maju ke arahku. Sebelum dia sempat mencengkeramku, Shep sudah lebih dulu mendorong ayahnya ke dinding dan menahan lengannya tepat di bawah rahangnya. “Pah! tenanglah! aku tak ingin menyakitimu, tapi tak akan kubiarkan Papa memukulnya!”

Tn Bannister melawan dan memukul Shep mundur. “Keluar!” raungnya, lalu dia meludah.

Shep mengelap dagunya yang terkena ludah ayahnya. Dia lalu mengangkat kepalanya dan meraih tanganku. “Ayo, Billy.” Dengan gusar dia menarik kenop pintu rumah, dan menoleh ke belakang. Ayah Shep berdiri sambil terengah marah dan wajahnya memerah, sementara Ibunya berdiri di belakangnya dalam keterkejutan.

Shep menggelengkan kepalanya kecewa. “Aku orang yang sama. Hanya saja… aku pikir kau ingin mengetahui diriku sesungguhnya.”

Saat Tn Bannister membanting pintu, saat itulah Shep menyeretku menuju truknya. Dia membuka pintu penumpang untukku lalu aku masuk dan memasang sabuk pengaman. Aku memerhatikannya berputar mengelilingi truk masuk ke bangku kemudi. Dia terlihat tenang.

“Shep? kau tak apa?”

“Apa? aku baik-baik saja, Billy. Tadi itu malah lebih baik daripada yang kubayangkan. Ayo kita pulang.”

Aku menatap Shep dalam kebingungan ‘lebih baik dari apa?’ tapi hal itu tak kuperpanjang. Jika Shep ingin aku memercayai ucapannya, aku akan mendukungnya.

Dia menyalakan mesin mobil dan pulang denganku tanpa berkata apa-apa lagi.

* * *

“Kau bikin aku ngaceng,” gerutu Shep sambil mendorongku ke ranjang.

Aku baru saja bertanya apakah dia ingin membicarakan tentang yang terjadi di rumah orangtuanya sore ini. Dia mengabaikan pertanyaanku. Lagi. Tapi melihatnya berdiri telanjang dan gagah dengan penisnya yang tegang itu…

Kita bisa bicara nanti. Aku merasa Shep membutuhkan ini. Dan sejujurnya, aku perlu terhubung kembali dengan Shep setelah drama yang terjadi tadi.

Aku menurunkan celana dalam dan melepas kausku, lalu melemparnya ke lantai. Aku memposisikan tubuhku seperti hendak merangkak. Kutolehkan kepalaku ke belakang dan menatap Shep dengan tatapan menggoda.

Shep menggenggam penisnya dan berkata. “Oh fuck. Kau bikin aku makin ngaceng.”

Shep beringsut dan berlutut tepat di belakangku. Kemudian dia membungkuk, menciumi sepanjang garis tulang punggungku sementara tangannya menggosok-gosok kulitku.

Aku menatap Shep penuh cinta dan kekaguman, emosiku meluap-luap dalam tubuh. Badanku rasanya seperti terbakar api asmara setiap kali tangannya yang kasar dan kuat itu menyentuhku. “Kau membuat tubuh dan hatiku terbakar, Shep.”

Shep memejamkan matanya. “Aku sangat mencintaimu,” bisiknya. “Aku tak pernah merasakan hal ini sebelumnya dengan siapapun. Itulah sebabnya aku takut. Tapi aku tak ingin bersembunyi. Aku menginginkan kau seutuhnya, Billy.”

Kuangkat kepalaku dan kucium Shep dengan penuh nafsu. Kami berdua menuangkan perasaan kami pada ciuman itu.

Shep mundur, dan menciumku ke bawah dan memberikan kecupan pada masing-masing bongkahan pantatku. Tangannya menggosok-gosok punggungku dan meremas pantatku. Dia membuka kakiku lebar-lebar, dan dengan telapak tangannya dia memisahkan dua gundukan pantatku.

“Ya Tuhan, Bill..” bisiknya.

Shep meraih pelumas dan mengoleskannya pada belahan pantatku. Dia menggosokkan jarinya yang licin berpelumas tepat di luar lubang anusku sambil memijatnya, lalu dua jarinya dia masukkan ke dalamnya.

Aku mendesis sambil memejamkan mata. “Masukkin aku, Shep.. tusuk aku…”

Shep mendekat ke arahku. Dia menggenggam penisnya dan menampar pantatku dengan batangnya itu. Tubuhku gemetar dan aku mengeluarkan rintihan.

“Kau mau ini, Billy? hah?” Dia menampar lagi belahan pantatku dengan penisnya dua kali. “kau pengen pantatmu ditusuk pake kontol gede ini? hah?”

Kuremas sprei dan mendorong tubuhku ke belakang hingga menekan tubuh Shep. “Iya Shep… aku mau…”

Lengan besar Shep meremas bokongku lagi. Dia memisahkan lagi gundukan pantatku dan kudengar dia menarik nafas berat. “Kelihatnnya enak sekali,” bisiknya. “Lubang yang sempit…”

Kurasakan ibu jarinya menelusuri belahan pantatku dan menekan lubangnya. Shep membungkuk, menekan punggungku dengan dada bidangnya yang berbulu. Dia menekan bibirnya pada punggungku, menciumnya hingga leher. Lidahnya dia jentikkan pada telingaku. “Pernah di-rimming?”

Aku terkesiap dan mengambil nafas dengan berat. “Belum,” cicitku.

“Banyak yang bilang, aku cukup mahir menggunakan lidah,” bisiknya berat sambil memainkan lidahnya pada lubang telingaku.

Kupejamkan mataku dan menahan nafas. Tanganku berpegangan erat pada sprei mengantisipasi cumbuan Shep pada punggungku yang bergerak semakin ke bawah.

Lidah Shep yang hangat dan basah itu mengusap lubang anusku. Aku bersumpah, aku nyaris keluar. Lidahnya berputar-putar pada sekeliling lubang anusku dan menekan-nekannya tepat diluar. Aku membenamkan kepalaku sambil melenguh. Seluruh tubuhku gemetar saat Shep melumat pantatku. Saat lidahnya dengan kuat menekan lubangku, aku tak tahan hingga meneteskan cairan pre-cum di atas sprei. Lidahnya beraksi hingga aku tak tahan lagi.

Kuangkat kepalaku dan menoleh padanya. “Sekarang, Shep,” aku memohon. “Masukkan kontolmu sekarang.”

Shep bangkit, lalu menuangkan pelumas pada penisnya dan kepalanya kini tepat berada di luar lubang anusku yang sudah rileks. Dengan ujung penisnya dia menggosok belahan pantatku. Lalu dengan dorongan yang cukup kuat, penisnya menyelusup masuk ke dalamnya. Dia menghentikan gerakannya beberapa saat, lalu menancapkannya lagi hingga pangkalnya. Aku pejamkan mataku dan bernafas dengan pelan dan dalam, berusaha menyesuaikan diri dengan hentakan penisnya yang cepat dan dalam itu. Zakarnya menggantung dan menekan milikku. Aku bisa merasakan rambut kemaluannya menggelitik kulitku yang sensitif. Aku merasa penuh.. penuh olehnya.

“Aku mau ngentot kamu kuat-kuat, Billy,” ujar Shep berat. “Bersiaplah.”

Shep mencengkeram bahuku dengan sebelah tangannya. Tangan satunya memegangi pinggangku. Kuremas sprei kuat-kuat saat Shep mendorong pinggangnya ke depan. Aku menahan nafas, menguatkan diriku sendiri menghadapi goyangan Shep yang cepat dan kasar. Dengan hentakan kuat, kepala penis Shep menghujam kelenjar prostatku.

Aku melenguh nyaris berteriak. “Shep! Yes!”

Shep memompa lama dengan kecepatan stabil, dan dengan cepat meningkatkan goyangan dan tenaganya. Dia menahan tubuhku hingga tak bergerak sementara pinggangnya terus bergerak menghujam tubuhku. Rintihan kenikmatanku dan erangannya tenggelam dalam suara tubuhnya yang beradu dengan tubuhku, dan juga suara derit ranjang dan kepala ranjang yang memukul-mukul dinding.

Aku meraih penisku dan mengocoknya seirama dengan hentakan tubuh Shep.

“Shep! ya Tuhan, aku mau keluar! aku…”

Shep menghujamkan kembali penisnya dalam-dalam hingga nyaris menghilangkan keseimbangan tubuhku. Shep tak pernah berhenti, tak pernah menyerah. Batangnya tanpa ampun menghujam prostatku lagi dan lagi. Aku nyaris kehabisan nafas. Penisku berdenyut dan aku memanggil nama Shep sambil merintih saat penisku menyemburkan cairan hangat kental ke atas sprei berkali-kali.

Saat otot-otot anusku berkontraksi ketika aku keluar, efeknya membuat pantatku mencengkeram kuat-kuat batang penis Shep. Dia mengerang dan menusukku tiga kali dalam-dalam.

“Billy! Fuck! Fuck!”

Tubuhnya menggelinjang di atas punggungku saat dia menembakkan cairan panas dan membanjiri terowongan pantatku.

Saat aku tak bisa lagi menahan tubuhku, aku menjatuhkan tubuhku ke ranjang sambil terengah-engah. Shep terjatuh di sebelahku. Dia lalu menarik tubuhku dan memelukku hingga kepalaku tepat bersandar pada bahunya. Dia memelukku erat-erat tanpa berbicara apapun.

Saat kuusap dadanya dengan jemariku, aku bisa mendengarnya bernafas pelan dan aku tahu sebentar lagi pasti dia tertidur.

“Shep?”

Shep mendengus dan menoleh padaku. “Ya?”

Aku mengangkat kepalaku dan menatapnya. Matanya sudah terpejam separuh dan wajahnya menampakkan kepuasan tiada tara.

“Apapun yang terjadi, kau dan aku… kita satu keluarga sekarang. Aku mencintaimu, dan hanya itu yang paling penting.”

Shep mendesah. Kulihat matanya berkaca-kaca dan dia mengerjapkannya beberapa kali. Dia mengangguk dan meraih tubuhku mendekat padanya. Kubenamkan wajahku pada lehernya dan mengecupnya. “Kau benar, sayang,” bisiknya.

“Bagaimana rasanya mengaku?” tanyaku pelan.

“Aku tak merasakan perbedaan,” ujarnya sambil menatapku. “Yang penting adalah, kita sekarang bersama, kau tahu? aku tak bisa putus-nyambung lagi denganmu. Aku biarkan berbulan-bulan menyembunyikan apa yang kita miliki, dan kau pantas untuk dapat yang terbaik. Aku tak akan pernah menyangkal lagi, aku janji.”

“Tak perlu berjanji Shep,” sahutku sambil ikut berkaca-kaca.
“Kau baru saja mengaku pada orangtuamu dan kau masih berusaha menyesuaikan diri. Mungkin lebih sulit dari yang kau kira.”

“Jika orang lain tak suka, biarkan saja. Aku bisa mengurus diriku sendiri.”

Aku mengecup pipinya. “Aku tahu kau bisa.”

Shep meraih daguku dan mencubitnya. “Apakah berat bagimu saat mengaku kalau kau gay?”

“Iya. Aku masih enambelas tahun waktu itu. Aku bodoh. Kubilang pada orangtuaku saat makan malam… di hari “coming-out”, tak lebih. Kupikir aku membuat pernyataan bangga. Tapi itu ide buruk. Aku tak siap untuk jatuh. Seharusnya aku menunggu, setidaknya sampai aku pindah dari rumah orangtuaku.”

“Enambelas tahun? Tuhanku. Well, baiklah, kurasa aku kehilangan keperjakaanku saat limabelas tahun. Aku menyangkal setengah mati saat itu. Aku jago olahraga. Aku berpacaran dengan pemandu sorak. Kulakukan apapun agar orang lain tak curiga bahwa ada yang berbeda padaku. Kau lebih berani dariku.”

“Oh, aku belum pernah berhubungan seks sampai usia duapuluh. Dengan pacar pertamaku, Dave.”

Shep mengusap rambutku, memuntirnya dan melepasnya lagi. “Apa dia memperlakukanmu dengan baik?”

“Iya… sangat, malah… Dia tidak menyakitiku. Setidaknya sampai dia mencampakkan aku, dan itu bukan siksaan fisik.”

Shep memelukku lebih dekat dan mencium bibirku. “Berarti dia cowok brengsek. Aku beruntung.”

Shep dan aku tertawa dan kamipun berciuman.

* * *

Advertisements
Comments
  1. Vivi says:

    Tamat atau masih ada lanjutannya?

  2. lima says:

    Ini ga ada lanjutanya min? Kalo bole tau translete dr mana min? Infoin dong sumbernya

  3. febrylex89 says:

    Remy? Lanjutannya mana nih.masa buntu disitu aja.posting an selir kaisar kapan keluar dah baca semua.

  4. herky says:

    saya tunggu kelanjutannya min…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s