Bercinta dengan Kakak Ipar – Part II (Bagian 2)

Posted: October 13, 2013 in Cerita Abang Ipar

1012440_420667948050716_1098220233_nHARI Jumatnya sepulang kerja, aku pergi ke bengkel tempat Shep kerja. Aku parkirkan mobilku di pelataran Midtown Auto. Kudengar diriku sendiri menghela nafas gugup. Ini akan menjadi kali pertama aku nongkrong bareng dengan Shep dan teman-temannya, jadi aku agak gugup. Teman-teman Shep ingin merayakan perceraiannya. Shep ingin aku ikut dan aku tak bisa menolak.

Aku melangkah masuk ke lobi sebelum jam tujuh. Bel pintu berdenting dan Dirk melangkah keluar dari kounter toko. “Hai, Billy,” ujarnya sambil menurunkan risleting seragam birunya setengah hingga kaus putihnya terlihat.

“Hai,” balasku sambil membuka jas.

Pria besar itu melewatiku dan mengunci pintu depan dan memasang tanda “TUTUP”. Aku pernah bertemu Dirk sekali, saat aku datang dan mempermalukan diriku sendiri setelah Shep putus denganku. Dirk adalah asisten manajer toko ini. Tubuhnya besar dan berjanggut lebat. Dia mirip sekali dengan beruang grizzly. Tampaknya dia pria yang ramah, Shep tak pernah berbicara buruk tentangnya.

“Kami baru selesai beres-beres,” katanya. “Setelah itu kita bisa berangkat. Aku senang kau bisa datang.”

“Okay. Trims,” kataku sambil tersenyum gugup. Aku melangkah ke jendela toko dan melihat ke lantai. Kulihat Shep keluar dari bawah mobil. Shep berdiri dan menarik lap dari kantung dan membersihkan tangannya. Dia melihatku dan melambaikan tangan, lalu menuju wastafel. Aku melihatnya ngobrol dan tertawa dengan teman-temannya, dan itu membuatku tersenyum.

“Shep kelihatan bahagia belakangan ini.”

Aku terlonjak kaget dengan suara Dirk yang berat. Dia berdiri di sebelahku dan menepuk bahuku. “Aku gak gigit kok.”

“Maaf,” gumamku.

“Perbedaannya seperti langit dan bumi. Kau membawa pengaruh baik untuknya. Dia kelihatan bahagia, dan itu terlihat pada hasil kerjanya.”

“Dia juga membuatku bahagia.”

Aku menatap Dirk dan dia mengangguk. Dia membalas tatapanku dengan sunggingan senyum, tapi ada kesedihan terlihat jelas di matanya. Pria besar ini kesepian.

“Bos kemana?” tanyaku.

“Mac mengajak Mike ke villa akhir pekan ini. Dia menugasiku untuk mengawasi pasukan ini sementara dia pergi bersenang-senang,” gerutunya, tapi kelip di matanya mengatakan bahwa dia tak keberatan.

“Bagus. Berat juga jadi bos, ya?”

“Yup. Berlibur bagus buatnya. Dia kerja terlalu keras. Aku akan menutup toko. Kau bisa pergi ke bengkel dan ngobrol dengan Shep kalau mau. Tapi tolong jangan sentuh apapun.”

“Oke, baiklah.”

Dirk mengangguk dan aku mendorong pintu toko menuju bengkel.

“Hey, Billy,” sahut Shep sambil nyengir. “Ayo, kukenalkan pada teman-teman.”

Shep memperkenalkan aku pada enam orang mekanik temannya. Mereka tampak baik dan ramah. Aku suka karena mereka terlihat biasa saja dengan hubunganku dan Shep walau mereka semua cowok “lurus”. Setidaknya aku berpikir demikian. Gaydarku bukan yang terbaik, tapi aku tahu Dirk seorang gay. Aku pikir semua cowok yang bekerja di sini nyaman saja dengan cowok gay karena mereka memiliki bos dan asisten manajer yang juga gay.

Aku dan Shep pergi ke restoran dengan truknya. Bar dan restoran itu memiliki layar TV di seluruh dindingnya dan terasa sporty. Kami mendorong meja dan menyatukannya, lalu memesan bir. Dirk membagikan piring-piring penuh berisi sayap ayam untuk semua.

Malam itu benar-benar diluar zona nyamanku, tapi aku senang. Bagian terbaiknya adalah melihat Shep berinteraksi dengan teman-temannya. Mereka tertawa dan bercanda tak ubahnya saat sebelum Shep mengaku gay. Ada sedikit candaan mengenai perceraiannya dan menjurus ke arah gay, tapi baik aku ataupun Shep tak tersinggung. Kupikir dukungan positif dari rekan kerjanya berpengaruh baik terhadap Shep yang mulai terbuka mengenai orientasi seksualnya.

***

“Kau tak apa, Billy?”

Pertanyaan Shep membuyarkan lamunanku. Aku menatapnya yang sedang duduk di ujung meja. “Oh. Iya. Aku tak apa,” jawabku sambil mengangkat bahu sementara kudorong sepotong ayam lemon di piringku dengan garpu.

Shep meraih tanganku dari seberang meja. “Bicaralah padaku, Billy. Kita harus membicarakannya jika ingin hubungan kita berhasil. Komunikasi, ingat?”

Aku meletakkan garpu dan mendesah. Kugenggam jemari Shep. “Kau benar, Shep.”

“Aku ingin hubungan kita berjalan baik Billy. Kau dan aku. Apapun itu.”

Aku mengangguk. “Aku juga, Shep. Aku memikirkan soal Natal. Apa yang harus kita lakukan? Kupikir aku tidak akan diterima keluargaku di rumah mereka. Sedangkan kau belum memberitahu orangtuamu.”

Shep mendesah dan memejamkan matanya. “Aku tahu, aku memang menghindarinya.”

“Well, baru dua minggu sejak kau kembali ke rumah ini. Aku tak ingin kau terburu-buru jika belum siap. Sungguh, itu mungkin ide yang buruk. Kuharap semua hal bisa berjalan dengan baik… kau pulang ke rumah orangtuamu… kurasa aku tinggal saja di rumah.”

“Kau tak akan sendirian saat Natal, Billy. Aku akan di sini bersamamu. Apakah ini kali pertama kau merayakan Natal tidak dengan keluargamu?”

“Yeah,” jawabku sambil mengangguk. “Walaupun sepertinya kita selalu bertengkar, tapi aku merasa harus bersama mereka.”

“Bagaimana kalau kau mandi air hangat dan bersantai. Aku yang akan cuci piring, oke?”

“Kedengarannya bagus.”

Aku bangkit dan Shep menarikku dalam pelukannya. Dia menciumku lembu. “I love you, Billy.”

“I love you too, Shep.”

Shep menepuk bokongku dan mendorongku ke pintu. Aku menuju kamar mandi dan memutar keran shower. Saat airnya terasa hangat dan beruap, aku melepas pakaian dan berdiri di bawah kucuran air hangat, membiarkan air itu membasuh tubuhku. Aku terdiam selama beberapa menit sambil bernafas pelan. Kuraih sabun dan menyabuni tubuhku sampai terasa bersih seluruhnya.

Aku mendengar kucuran air di wastafel dan kuintip dari balik tirai. Rupanya Shep sedang menggosok gigi dengan hanya mengenakan celana boxer.

Kubilas rambutku, lalu mematikan keran dan keluar. Shep cepat-cepat meludahkan busanya dan meletakkan kembali sikat giginya. Dia mengambil handuk dan membungkus tubuhku dan mengeringkannya. Saat dia menggosok tubuhku, dia menatapku dan menciumku dengan mulutnya yang beraroma mint.

“Trims, Shep.” kataku sambil mendesah, menyandarkan kepalaku pada lengannya, membiarkan dirinya memelukku.

Shep berpindah ke hadapanku sambil berjongkok. Dia mengeringkan tubuh bagian bawahku, mulai kaki hingga penis dan zakarku. Aku melihat ke bawah. Pemandangan kekasihku yang sedang berjongkok dan wajahnya tak jauh dari penisku membuatku terangsang. Penisku mulai menegang dan berdiri.

“Nah, coba lihat ada apa di sini?” ujar Shep licik.

Shep merunduk dan menyapukan lidahnya pada kepala penisku. Aku mendesah pelan saat kurasakan hangat mulutnya membungkus penisku. Kuraih kepala Shep dan mengusap rambut pirangnya. Shep mengulum penisku lebih dalam lagi.

“Shep… enak sekali…”

Jari-jarinya yang besar mulai mengocok penisku seiring mulut Shep yang masih asyik mengulum penisku. Bibirnya mengatup rapat saat mengulum penisku. Dia tak bisa mengulum sepenuhnya, tapi usahanya patut dipuji.

“Tuhan, kau hebat sekali,” bisikku. “Seperti yang aku suka…”

Tangan Shep satunya meremas-remas lembut zakarku. Tak lama sampai akhirnya menegang dan melesak masuk tubuhku.

“Shep,” aku mendesah. Kudorong pinggulku ke depan, memaksa penisku semakin dalam ke mulut Shep. Mata birunya menatapku saat kupompa penisku keluar masuk mulutnya, berupaya tak membuatnya tersedak. Tangan Shep menggenggam pangkal penisku menjaganya agar melesak tak terlalu dalam, meluncur keluar masuk mulutnya. Kombinasi seks oral dan kocokan tangannya membuatku tak tahan.

Tubuhku menegang dan aku mengeluarkan desahan pelan. “Aku mau keluar…”

Aku berusaha mundur, namun Shep meraih pinggangku dan menahannya. Oh, Tuhan, dia ingin aku keluar di mulutnya. Aku tak tahan lagi. Kudorong pinggangku dua kali sambil meringis, “Aku keluar, Shep!”

Lututku gemetar dan otot-ototku menegang saat aku keluar, lagi dan lagi, kutumpahkan cairan spermaku di dalam mulut Shep. Kuraih bahunya agar aku tak terjatuh ke lantai.

Shep membiarkan penisku terlepas dari mulutnya. Dia menatapku dan dengan bangga menunjukkan padaku bahwa dia telah menelannya. Dia ingin aku melihat apa yang dia lakukan. Ku remas bahu Shep dan menatapnya penuh kekaguman, keterkejutan, dan nafsu. Shep mengusap mulutnya dengan punggung tangannya. Kubantu dia berdiri dan merangkul tubuh berototnya.

“I love you so much,” bisikku sambil memasukkan tanganku ke dalam celana boxernya dan meraih penisnya yang mengeras dan basah oleh cairan pre-cum.

“Aku ingin kau bahagia, Billy,” sahut Shep pelan.

“Kalau kau tak ingin…”

“Aku gak bilang begitu,” ujarnya sambil tertawa.

Aku tersenyum dan mendaratkan kecupan pada dadanya yang berbulu, lalu pada perutnya, kemudian aku berlutut. Kutarik celana Shep ke bawah dan meraih penisnya. Batangnya sudah mengeras. Dengan jariku, kudorong kulupnya ke belakang sehingga kepala penisnya yang kemerahan terlihat jelas. Aku mulai memasukkan batang itu ke dalam mulutku sedikit demi sedikit hingga hidungku terkena rambut kemaluannya. Perbuatanku membuatnya mengeluarkan erangan. Jika aku bisa tersenyum, pasti sudah kulakukan. Tapi mulutku penuh. Sangat penuh.

“Ya Tuhan, enak sekali,” erangnya. “Hisap. Hisap terus sayang…”

Kujentikkan lidahku saat mengisap batang penis Shep dengan isapan yang cukup kuat. Kulakukan itu berulang-ulang. Setiap gerakan yang kubuat, membuat lidahku menekan-nekan daerah kecil antara kepala dan batang penisnya. Shep mengerang dan mencengkeram kepalaku dengan tangannya yang besar.

“Aku mau ngentotin kamu, Billy,” ujarnya sambil mengerang.

Jemari Shep merenggut rambutku dan mengangkatku hingga berdiri. Dengan kasar dia membalik tubuhku, mendorongku hingga membungkuk di depan wastafel. Aku mempersiapkan diri saat Shep membuka kakiku lebar-lebar. Dia membuka laci dan mengeluarkan sebotol pelumas. Kutatap wajahnya melalui cermin wastafel, memerhatikan dirinya mengeluarkan isi pelumas dan membalurkan gel dingin itu diantara kedua belah pantatku. Shep menuangkan lagi pelumas itu dan melumuri penisnya yang sudah sangat tegang, lalu mulai mendorongnya masuk lubang anusku. Matanya menatapku lewat cermin saat dia melakukan itu.

Kugenggam pinggiran wastafel saat Shep mencengkeram pinggangku dan mulai menggenjot penisnya keluar masuk. Dia melakukannya dengan irama yang cepat dan kasar. Aku membalasnya dengan mendorong pantatku ke arah tubuhnya, menjepit penisnya seketat mungkin dengan otot-otot dinding anusku, berusaha membuatnya enak dan nikmat.

Beberapa lama kemudian Shep mengerang sambil berkata. “Aku mau keluar!”

Shep menghujamkan jari-jarinya pada pinggangku sambil mengerang panjang dan memenuhi terowongan anusku dengan cairan hangatnya. Dia menunduk dan membenamkan wajahnya pada punggungku sambil mengatur nafasnya yang terengah-engah. Dia menciumi leher dan bahuku yang basah oleh keringat. “Hebat sekali sayang… kau hebat…”

Dia menarik nafas panjang dan penisnya yang mulai melunak keluar dengan sendirinya dari lubang pantatku. Saat dia mundur, beberapa tetes cairan sperma mengalir di pahaku.

“Percuma ya tadi mandi,” ujarku. “Sekarang aku berkeringat dan kotor lagi.”

“Ups. Salahku,” kata Shep sambil terkekeh. “Ayo, mandi lagi sama-sama.”

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s