Bercinta dengan Kakak Ipar – Part II (Bagian 1)

Posted: October 13, 2013 in Cerita Abang Ipar
Tags:

1382423_1393419477557203_1247078967_nAKU bisa merasakan Shep memerhatikanku saat aku melepas pakaian hingga hanya mengenakan kaus dan celana pendek saja. Kutarik selimut lalu merangkak ke atas ranjang.

Shep melucuti pakaiannya hingga tersisa celana boxernya saja yang dia kenakan. Dia terdiam sesaat, kemudian melepasnya dan melempar celana itu ke keranjang. Aku tak bisa menahan diri untuk tak mengintip sekilas penisnya, tergantung lemas di antara kedua pahanya, kulupnya menutupi seluruh kepalanya. Pandanganku menjalar ke arah perutnya yang berbulu, lalu dada, dan terakhir wajahnya. Shep memandangiku saat dia memanjat ke atas ranjang dan berbaring di sebelahku.

“Kenapa pake baju?” dia bertanya pelan sambil menarik kausku.

“Aku agak capek,” jawabku malas, mengalihkan pandangan dari matanya. Melihat cara Shep menatapku membuatku merasa bersalah telah menggunakan alasan yang klise.

“Ah, baiklah,” katanya sambil menghela nafas dan berbaring telentang. Shep menatap langit-langit kamar sejenak, lalu menoleh ke arahku. “Aku akan menandatangani surat perjanjian perceraian besok, dan kemudian ada sesi dengar pendapat juga.”

“Baiklah, aku ikut denganmu.”

“Gak usah.”

“Tapi aku mau ikut. Terutama karena Wendy akan datang juga.”

Shep terdiam sesaat sebelum akhirnya dia bertanya pelan, “Kau tidak percaya padaku, ya?”

Aku bangkit dan menatapnya. “Aku percaya padamu, Shep.” kata-kataku tak terdengar meyakinkan, bahkan untukku sendiri. Aku hanya takut terlalu memaksa dan menuntut sesuatu darinya, hal yang mungkin tak bisa diberikannya padaku.Shep tidak bodoh, dia bisa merasakan sesuatu yang kusembunyikan.

“Aku sudah dua hari pulang ke rumah. Aku bisa bilang kau sedikit menjaga jarak. Kita bahkan belum ML. Kau biarkan aku menciummu, tapi tidak membiarkanku menyentuhmu.”

Shep benar. Aku meneguk ludah dengan gugup dan berdeham kecil. “Aku, um, tidak tahu kalau kau lagi kepingin…”

“Aku telanjang di sebelah kau. Kontolku sudah setengah tegang hanya karena dekat dengan kau. Kalaupun ada pertanyaan apakah gue kepingin, kau pasti tahu jawabannya.”

Shep menarik selimut dan aku melihat ke arah matanya menatap. Kontolnya berdiri setengah tegang menunjuk ke arahku. Kuperhatikan kontol itu makin menegang dan menekan perutnya. Pemandangan itu membuat tubuhku bereaksi dan kurasakan kontolku pun ikut menegang.

Shep beringsut ke arahku dan menggosokkan dagunya yang berbulu pada bahuku. Suaranya terdengar lirih dan memohon, “Katakan padaku, Billy. Apa yang harus kuperbuat supaya semuanya lebih baik?”

Aku berdeham lagi dan menatap langit-langit. Ada satu pertanyaan yang setengah mati ingin kulontarkan padanya, tapi aku takut akan jawabannya. “Aku harus tahu, Shep,” bisikku. “Ketika kita berpisah… apakah kau… apakah kau tidur dengan Wendy?”

“Apa? Tidak! Ya Tuhan, Billy. Jadi ini masalahnya? aku bersumpah padamu, Billy. Aku tidak tidur dengan Wendy. Aku tak bisa melakukannya.”

“Kurasa aku tak akan tahan kalau kau sampai berselingkuh.” kalimat itu mencakup ironi dan ketakutan sekaligus. Aku tahu, aku berhubungan dengan Shep saat dia “berpisah” dengan Wendy, tapi ikatan itu tak seluruhnya terputus. Apakah karma akan kembali padaku, menertawakan impianku untuk hidup bahagia selamanya?

Shep bergeser ke atas tubuhku, setengah menindihku dengan tubuh berototnya. Salah satu lengannya yang besar meraih wajahku memaksaku untuk menatap matanya. “Maafkan aku, Billy. Aku tahu tak cukup mengucapkannya sekali, tapi aku sungguh menyesal. Kau harus percaya padaku. Saat itu aku takut dan membuat kesalahan… dan aku menyesal. Aku memang cowok brengsek dan tak pantas untukmu. Tapi aku harus tahu kalau kau sudah memaafkanku, Billy. Maksudku, kau harus sungguh-sungguh memaafkanku sebelum kita melangkah. Kumohon, Billy.”

Aku mendesah pelan. “Aku memaafkanmu, Shep. Aku ingin hubungan kita berhasil. Aku tak akan mendatangimu bila aku tak ingin kembali padamu. Keadaan kita diluar masalah saling memaafkan. Aku harus memaafkan diriku sendiri. Kita tidak menjalani hal ini dengan mulus, tapi inilah yang pantas kita dapatkan. Keluargaku mungkin tak akan menerima kita, tapi aku ingin melangkah maju, bersamamu.”

“Aku mencintaimu, Billy. Kau tahu itu kan?” kata Shep sambil mengusap rambutku.

“Aku juga mencintaimu, Shep,” kataku sebelum mendesah. “Kita harus memperbaiki komunikasi kita, ya?”

Shep tertawa. “Yeah.”

Shep kemudian menunduk dan menciumku lembut. Kuletakkan tanganku di belakang lehernya dan menariknya supaya aku dapat membalas ciumannya, pria ini adalah milikku yang membuatku rela berkorban. Ciuman kami dengan cepat berubah menjadi penuh nafsu saat lidahnya menyelusup ke dalam mulutku. Kugeser kakiku dibawah tubuhnya, mengarahkan tubuh Shep tepat di antara kakiku dan memberinya lampu hijau.

Terperangkap di bawah tubuh besar Shep, dia menekan tubuhku di atas ranjang. “Aku kangen ditindih kau seperti ini,” bisikku.

Aku mendengar beruangku menggeram antusias. Matanya memberitahuku bahwa dia akan menebus waktu yang hilang saat berpisah dulu. Tubuhku gemetar penuh antisipasi. Beruangku seolah ingin memangsaku.

Saat dinding penghalang di antara kami telah runtuh, Shep tak lagi menahan diri. Dia menciumku keras-keras, menyusupkan lidahnya ke dalam mulutku dan menggumul lidahku. Dia melumat bibirku sebelum mencumbu leherku. Saat dia mengisap dengan bibir dan giginya, Shep menekan pinggangnya pada pinggangku, membuat kontolnya beradu dengan kontolku yang masih berada dibalik celana dalam. Aku melenguh dan menancapkan jemariku pada punggungnya sambil membalas pelukannya.

Shep melepas kausku dan melemparnya ke lantai. Lengannya yang hangat menjelajah tubuhku, membuat kulitku menjadi sensitif dan tergelitik. Mulut dan lidahnya menggarap salah satu putingku, mengisap dan menjilatnya hingga mengeras. Setelah beralih pada puting satunya, Shep menyapu lidahnya naik dari dada hingga daguku.

“Aku ingin mengulum kau, Shep,” ujarku berbisik.

“Oh, fuck yeah, Billy,” erangnya.

Shep menciumku sekali sebelum mengabulkan permintaanku. Dia merangkak naik di atas tubuhku, hingga kedua lututnya tepat berada di ketiakku. Dia mendorong pinggulnya sehingga kontolnya menggosok bibirku. Dengan jarinya, Shep menggenggam kontolnya dan mengarahkannya pada mulutku yang terbuka. Aku melenguh dan mencicipi kepala kontol Shep yang mengeluarkan cairan pre-cum. Ya Tuhan, aku suka sekali mengulum kontolnya.

Aku merapatkan bibirku dan mulai mengulum kepala kontol Shep. Dengan lidahku, kujelajahi batang kontolnya yang sudah sebagian masuk ke dalam mulutku. Setelah itu aku berusaha mengulumnya lebih dalam lagi.

Shep mengerang dan jemarinya dia tahan pada dinding dan mulai mendorong pinggangnya agar kontolnya masuk lebih dalam. Aku mencengkeram pinggangnya memohon dirinya agar mendorong lebih dalam.

“Aw, fuck,” erangnya. Pinggangnya bergerak maju mundur menyebabkan kontolnya menekan hingga ujung tenggorokanku dan membuatku mengeluarkan air mata. Shep mengerang keras saat dia mengentot mulutku. Aku bisa tahu dari nafasnya kalau dia hampir mencapai puncak, jadinya aku terheran saat dia menarik kontolnya keluar dari mulutku. Aku menatapnya penuh tanda tanya.

Shep menatapku. Dengan ujung ibu jarinya, dia mengusap bibirku yang basah. “Aku pengen keluarin di dalam, Bill…”

Aku mengeluarkan desahan dan kontolku menegang hingga mengeluarkan cairan pre-cum lebih banyak. Shep tampaknya tidak ingin mendengar penolakanku.

Shep bergeser ke bawah sehingga dia berlutut di antara kedua belah pahaku. Dia menarik celana dalamku dan melemparnya. Dia mencengkeram kakiku dan menariknya lebih dekat padanya.

“Yes, Shep,” bisikku. “Fuck me.”

“Akan kubuat kau berteriak, Billy.”

Shep meraih sebotol pelumas dari dalam laci. Dia menuangkannya pada jari dan melumurinya. Aku terkesiap saat tanpa aba-aba Shep memasukkan jarinya ke dalam lubang anusku. Aku menatap Shep sambil mendesah, mencoba mengatur nafasku. Rasa nyeri perlahan memudar saat Shep menggerakkan jarinya keluar masuk lubang anusku sambil memutar-mutarnya. Segera dia menemukan titik sensitifku dan memijatnya hingga aku nyaris menangis karena keenakan dan mencengkeram lengannya. Oh, tuhan, kekasihku benar-benar memberikan permainan terbaiknya malam ini, pikirku sambil menikmati gerakan jarinya.

Shep menarik jarinya keluar lalu melumuri kontolnya dengan pelumas. Dia membungkuk saat mencoba mengarahkan kepala kontolnya tepat di luar lubang anusku. Saat kurasakan batang kerasnya mulai mendorong masuk, aku menaikkan pinggangku dan kurapatkan lututku di dada, menawarkan diriku sendiri kepada kekasihku. Aku mencengkeram sisi tubuh Shep dengan lututku dan menekan pantatnya dengan tumitku, memaksanya masuk lebih dalam…

Perlahan Shep mendorong kontolnya masuk, senti demi senti sampai akhirnya seluruh batangnya melesak masuk hingga kurasakan bulu kemaluannya menggosok kulitku. Shep melenguh kencang dan menggoyangkan kepalanya. “Pantatmu sempit sekali.”

Dia kemudian meraih tubuhku dengan lengannya. Lidah kami saling bergumul. Lidah Shep berusaha mendominasiku.

Aku menghentikan ciumannya dan berkata, “Goyang, Shep…”

Shep menarik kontolnya sedikit dan menghujamkannya kembali perlahan. Kepala kontolnya memijat titik sensitifku hingga terasa nikmat sampai tulang belakang.

“Ya… Kayak gitu, Shep,” desahku.

Shep memompa kontolnya dengan irama perlahan dan stabil, memanjakan prostatku dengan kenikmatan pada setiap hujamannya. Shep tak pernah melepaskan pandangannya pada mataku.

Aku mendorong tubuh Shep dengan pinggangku memaksa pantatnya memompa lebih cepat dan lebih dalam. “Shep, kumohon… lebih keras.”

“Shh.” Shep menekan bibirku dengan bibirnya agar aku diam. Shep tidak meningkatkan irama goyangannya. Dia mengabaikan usahaku membuatnya bergerak lebih cepat dan tetap pada ritmenya. Jelas-jelas Shep berusaha keras menahan nafsunya karena tubuhnya gemetar. Keringat mengucur deras dan nafasnya menjadi berat.

Saat kurasa diriku tak tahan lagi, Shep meraih kontolku dan mulai mengocoknya. Dia menatapku sambila menggumam, “kubuat kau keluar, Billy.”

Kujambak rambut Shep di belakang kepalanya dan menatapnya tajam. Tangannya mengocok kontolku lebih cepat dan semakin cepat. “Shep!” aku meringis dan menumpahkan spermaku ke seluruh perut dan jemari Shep.

Shep mengerang saat otot-otot pantatku meremas batang kontol Shep semakin erat ketika ejakulasi. “Fuck, Billy! Oh…. aku mau keluar di dalam pantatmu, sayang.”

Shep kehilangan kendali dan mulai menghujamkan kontolnya semakin cepat. Dia meneriakkan namaku seiring dengan hujaman terakhirnya dan memuncratkan seluruh spermanya dalam lubang pantatku. Aku memeluk Shep erat-erat. Bisa kurasakan kontolnya berkedut di dalam pantatku, mengisinya dengan cairan hangat spermanya. Aku mengendurkan syarafku dan menikmati tindihan tubuh Shep di atas tubuhku.

Dengan erangan panjang, Shep mencabut kontolnya dan terguling ke sisi tubuhku.

“Sini, sayang,” katanya, sambil menarik lenganku.

Aku beringsut lalu merangkul tubuhnya dengan tanganku. Kusandarkan kepalaku pada bahunya sambil menguap. “Kau memang hebat, Shep.”

Shep ikut menguap. “Mm-hmm.”

“I love you, Shep.”

“Love you too, Billy.”

“Badan kita lengket sekali. Kita harus mandi,” ujarku sambil menutup mata.

“Ga usah. Biarkan aku istirahat sebentar.”

“Aku senang kau pulang.”

Shep tersenyum bahagia lalu mulai mendengkur. Aku menguap dan mengistirahatkan tubuhku padanya, lalu tertidur. Kami berdua akhirnya bersama.

***

“Ternyata gak susah,” ujar Shep pelan sambil membuka pintu ruang sidang. “Sebagian…”

Aku mengikuti proses perceraian Shep yang melelahkan, tapi aku bahagia bahwa ikatannya dengan Wendy secara resmi telah berakhir. “Yeah, aku senang semuanya berakhir,” kataku sambil menjajarkan langkah dengannya.

Shep merunduk dan berbisik, “sekarang aku milikmu.”

Bunyi klik pintu dibuka dan suara sepatu hak tinggi di belakang kami terdengar menghampiri. Serangkaian kuku palsu bak cakar elang terasa menusuk lenganku. Aku menoleh pada Wendy yang sudah berdiri di sebelahku.

“Apa maumu?” tanyaku tak sabar.

“Kuharap kau bahagia dengan perbuatanmu.”

“Kalau boleh jujur, iya. Terima kasih sudah bertanya.”

Wendy berkacak pinggang dan memutar matanya. “Kau pikir kau ini cerdas ya.”

“Ayolah, Billy,” kata Shep. “Kita pergi.”

Wendy menatap gusar ke arah Shep. “Ini antara aku dan adikku, jadi jangan ikut campur, brengsek. Kau bukan lagi bagian dari keluarga kami. Oh, dan kau bisa ambil namamu kembali. Aku ganti namaku kembali menjadi Harper.”

Aku menghela nafas bosan. “Wendy, sudahlah,” ujarku.
Diam-diam, aku sebenarnya senang Wendy tak lagi menyandang nama Bannister. Aku tak ingin ada sesuatu yang mengingatkanku bahwa dia pernah menjadi istri Shep. Shep milikku sekarang.

Wendy mendengus sambil tertawa dan bibirnya tersenyun mengejek saat menatapku. “Saat kita tumbuh besar, kau adalah anak baik-baik nan sempurna. Tak mungkin berbuat salah, tapi lihat sekarang… malaikat itu sudah dilempar dari surga.”

Ucapan Wendy seakan memukulku dengan keras, lebih keras daripada tamparannya di wajah. Semua itu benar. Wendy adalah anak yang manja. Sedangkan Wilson adalah si pembuat onar. Sementara diriku adalah anak baik-baik dan tak pernah bertingkah. Aku tak pernah mendapat masalah di sekolah. Setelah aku mengaku bahwa diriku gay, semua itu menjadi tak penting lagi. Sekarang diriku hanyalah si pecundang… pembawa aib… banci.

“Kau jadi banci saja sudah memalukan,” lanjut Wendy. “Tapi sekarang kau juga perusak rumah tangga orang… perebut suami kakakmu sendiri. Kasihan ayah dan ibu. Mereka pasti tak menyangka ada mahluk jahat tumbuh dalam rumah tercinta.”

“Abaikan dia, Billy,” kata Shep. “Dia hanya wanita tua menyedihkan.”

Shep merangkul pundakku dan memaksaku berjalan.

Wendy masih punya satu amunisi lagi untuk menyerangku sebelum kami keluar ruangan, “Omong-omong, Billy… Jangan harap kau diundang untuk datang Natal nanti.”

Shep mendorong pintu ruang sidang dan kami menarik risleting jas masing-masing. Shep menarik topi wol dari kantung dan mengenakannya di kepala. Kami berjalan dalam diam menuju tempat parkir di mana truk merah milik Shep berada. Warnanya yang cerah terlihat menyolok di antara mobil lainnya.

Setelah kami berada di dalam truk, Shep meraih tanganku dan meremasnya. “Kau tak apa?”

“Dia benar, Shep,” ujarku.

“Soal apa?”

“Dulu aku malaikat, sekarang akulah iblisnya.”

Shep mendesah. “Aku tak mau menjelek-jelekkan keluarga iparku, tapi kalau boleh kubilang, mereka bukanlah tipe orang-orang yang pikirannya terbuka. Rumah penuh kasih sayang? Nah, itu baru omong kosong.”

“Aku tahu. Tapi tetap saja menyebalkan.”

“Aku tahu, sayang. Persetan dengan mereka. Kau akan selalu jadi malaikatku.”

Aku menatap wajah serius Shep dan tak tahan untuk memutar mataku.

Shep mengerutkan hidungnya. “Berlebihan?”

Aku mengangguk dan terbahak. “Yeah.”

Shep mengangkat bahu. “Kenyataannya begitu. Tak ada manusia yang sempurna. Itulah sebabnya aku yakin kaulah yang terbaik buatku, sayang. Kau menerimaku dan mencintaiku dengan segala kekuranganku. Nah, bagaimana kalau kita makan siang dulu sebelum ke kantor. Aku sudah minta izin Mac akan datang setelah makan siang.”

Aku menyandarkan kepala pada jok mobil dan menoleh ke arah Shep. Dengan penuh kasih sayang ku usap pundak Shep dan lengangnya, aku heran bagaimana Shep selalu dapat membuatku terpesona. “Yeah, boleh juga. Aku bilang bosku kalau aku tak tahu bisa datang jam berapa, jadi aku masih punya waktu.”

Shep mencondongkan kepalanya dan mencium dahiku sebelum menjalankan kendaraannya.

Saat kami santap siang, kuperhatikan Shep menatap kosong langit-langit sambil tersenyum, seperti seekor kucing yang baru saja melahap burung kenari.

Aku menyenggol kakinya di bawah meja. “Kau senyum-senyum kenapa?”

Dia menoleh padaku dan kulihat kilatan cahaya di kedua matanya yang biru. “Aku merasa bebas.”

Dia tertawa ringan dan aku ikut tertawa. Kulihat dia tersenyum, ikut merasakan bahagia dengannya.

Saat kami kembali ke truk, Shep melirik jam dan menghela nafas. “Kurasa aku harus mengantarmu ke kantor lalu ke tempat kerja.”

Shep menyalakan mobil dan memutar radio. Dia nyalakan pemanas dan membiarkan mesin truk bekerja beberapa saat agar mesinnya panas.

Kuambil kesempatan itu untuk bergeser ke arah Shep. Kugosok-gosok pahanya dengan tanganku hingga mendekati selangkangannya. Kuciumi lehernya, dan kuusap cambangnya dengan hidungku, lalu berbisik padanya. “Carilah tempat sepi di perjalanan.” Perlahan kuusap dan kuselipkan tanganku di antara pahanya. Ketika menemukan tonjolan di balik celananya, kuremas pelan dan lama tonjolan itu.

“Fuck,” gerutu Shep.

Dia kemudian menjalankan truknya dan cepat-cepat pergi. Kubuka risleting celananya dan membuka kaitannya. Setelah tanganku mendapati celana boksernya, kubiarkan jemariku menyelusup ke dalamnya. Penisnya yang besar itu sudah mulai mengeras sebagai respon dari rangsanganku. “Mmm… gede yah?” godaku sambil mulai mengocoknya perlahan dari pangkal hingga ujungnya.

Shep menepikan truk di pinggir jalan yang sepi. Dia melepas sabuk pengaman dan bergeser ke arahku. Aku membuka celananya dan membungkuk ke arah selangkangannya. Kemudian kuraih penisnya dan mulai melahapnya tanpa pikir panjang. Shep meletakkan tangannya pada bagian belakang jok mobil dan kepalanya menengadah sambil mendesah. “Oh, sayang…”

Shep benar-benar terangsang. Penisnya mengeras sekeras baja. Tubuhnya mulai bergetar saat dia memompa penisnya keluar masuk mulutku. Kugenggam penisnya sambil mengulumnya dalam-dalam sehingga kepalaku naik dan turun sementara Shep masih mengenakan celananya.

Shep menggerutu dan mengusap kepalaku. “Kau suka sekali ngisep kontol, ya sayang? yeah.. aku juga suka dikulum, sayang. Hisap yang kuat, sayang…”

Aku melenguh dan melumuri seluruh batang penis Shep dengan liurku hingga mengilap. Dengan penuh nafsu kukulum batang itu dan dengan lidahku kuusap zakarnya perlahan-lahan dan mengulumnya bergantian.

Kemudian aku duduk dan mencium bibir Shep. Mulut kami terbuka dan lidah kami saling menggumul. Aku berkata pelan pada Shep dengan nada menggoda, “Aku ingin membuat kau keluar, Shep. Aku ingin bikin kau muncrat di dalam mulutku.”

Aku menundukkan kepalaku kembali. Tangan Shep meraih kepalaku dan membimbingku dalam memberikan servis oral pada penisnya dengan irama yang cepat. “Billy… hisap kontolku… Fuck yeah…”

Kugunakan jemariku dengan gerakan memutar, menggenggam, mengocok, sementara aku terus mengulum penisnya. Kurasakan tubuh Shep menegang dan aku tahu itulah saatnya dia memberikan ‘hadiah’ atas kerja kerasku.

“Terus Billy,” desisnya. “Seperti itu… jangan berhenti…” tangannya merenggut rambutku kuat-kuat. “Aku mau keluar. Oh, Tuhan! aku mau keluar!”

Penis Shep menegang luar biasa. Kurasakan penisnya berdenyut-denyut dan menekan lidahku saat mulutku dibanjiri cairan panas spermanya. Shep memuncratkan cairan spermanya lagi dan lagi, dan aku berusaha menelannya hingga tetes terakhir. Setelah itu aku kembali duduk. Kuusap bibirku dengan tanganku sementara Shep mengatur nafasnya dan menutup kembali celananya.

Wajahnya memerah dan nafasnya terengah-engah. Matanya berkedip-kedip takjub saat menatapku. “Ya Tuhan, Billy.”

Aku tersenyum dan Shep meraih kepalaku dan menciumku penuh nafsu. Setelah kami berciuman, dia meremas selangkanganku yang sudah menegang juga.

“Aku janji akan membuatmu puas malam nanti,” ujarnya sambil nyengir.

Aku membalas senyumannya. “Jangan khawatir, akan kuingatkan.”

* * *

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s