Archive for October, 2013

roy_rodrigo1SETELAH Bastian bercinta dengan anaknya sendiri, kali ini dia merayu Nico, teman anaknya yang ternyata diam-diam menyukainya. Permainan terlarang mereka di lakukan di rumah Bastian saat seisi rumah tak ada. Namun sepertinya Bastian tak cukup mendapatkan servis oral dari remaja itu, dan mengajak Nico meneruskan permainan di dalam kamar. (more…)

hot dennis trillo temptation of wife as marcelRASANYA aku pantas mendapat pujian atas aktingku yang sekuat tenaga bersikap biasa-biasa saja setelah peristiwa malam itu saat Mas Bima merenggut keperawananku. Keeseokan harinya, kami bersikap seolah tak terjadi apa-apa. Malah terlalu biasa sampai-sampai aku sedikit kesal dengan “amnesia” nya Mas Bima karena menganggap peristiwa yang bagiku sangat penting itu terlihat tak istimewa baginya. (more…)

LOVE MY DAD (Bagian 3)

Posted: October 16, 2013 in Love My Dad the Series

gversoza25Bastian tak menyangka bahwa dirinya bisa melakukan perbuatan terlarang: melakukan hubungan seks sejenis, bahkan dengan anak laki-lakinya sendiri. Peristiwa itu terjadi seminggu yang lalu. Anaknya yang bernama Steve memang tak mempermasalahkan hal itu. Tapi mau tak mau dirinya terpengaruh. Beberapa kali Bastian merasa canggung berbicara dengan putranya sendiri. Kadang dia menghindari percakapan dengan Steve dan enggan bertatap mata dengan anak satu-satunya itu. Dia merasa Steve terganggu dengan sikapnya. Steve tak mengerti, bagi Bastian hal itu benar-benar membuat dirinya mempertanyakan moralnya sendiri. Steve mungkin hanyalah remaja biasa yang belum bisa membedakan mana salah dan benar. Baginya rasa sayang terhadap Papanya dia ekspresikan tak peduli bagaimana caranya. (more…)

59724_334659596651552_1569220991_n“Kau yakin soal ini?” tanyaku, sesaat setelah keluar dari dalam truk milik Shep.

“Aku yakin. Sudah waktunya, Billy. Aku tak bisa terus-terusan sembunyi.”

Shep menutup pintu mobil dan aku menjajari langkahnya menuju teras depan rumah milik orangtua Shep. Aku tak pernah pergi ke rumah di mana Shep tumbuh. Daerah tempat tinggal Shep terdiri dari beberapa blok. Semua rumah di situ terlihat sama.

Aku menatap Shep, menghentikan langkahnya di trotoar sebelum kami tiba di teras. “Shep, aku tak mau kalau kau melakukannya karena terpaksa. Aku tak bermaksud untuk memaksamu.”

“Aku tahu, sayang. Malah sebenarnya, hubungan kita sudah bukan rahasia lagi. Makin banyak orang yang tahu soal kita. Keluargamu, teman kantor… Ayah dan Ibu akan tahu juga cepat atau lambat, itu kalau Wendy belum memberitahu mereka.”

“Mungkin lebih baik kalau hanya kau dan orangtuamu saja.”

“Dasar penakut.”

“Benar! aku penakut!”

Aku menarik nafas dalam-dalam saat berdiri di depan pintu rumah. Rumah itu bergaya pedesaan dengan banyak nuansa biru. Keramik bergaya lama di lantai depan pintu menarik perhatianku saat aku berusaha mengendurkan syaraf-syarafku yang tegang.

Shep mengetuk pintu dan mendorongnya. “Halo?”

Ibunda Shep bergegas menuju pintu menyambut kami. “Shep, sayang.” Dia mencium pipi Shep dan menoleh kepadaku. “Halo.”

“Ma, kau ingat dengan Billy Harper?”

“Tentu. Si anak tengah.” (more…)

1012440_420667948050716_1098220233_nHARI Jumatnya sepulang kerja, aku pergi ke bengkel tempat Shep kerja. Aku parkirkan mobilku di pelataran Midtown Auto. Kudengar diriku sendiri menghela nafas gugup. Ini akan menjadi kali pertama aku nongkrong bareng dengan Shep dan teman-temannya, jadi aku agak gugup. Teman-teman Shep ingin merayakan perceraiannya. Shep ingin aku ikut dan aku tak bisa menolak.

Aku melangkah masuk ke lobi sebelum jam tujuh. Bel pintu berdenting dan Dirk melangkah keluar dari kounter toko. “Hai, Billy,” ujarnya sambil menurunkan risleting seragam birunya setengah hingga kaus putihnya terlihat.

“Hai,” balasku sambil membuka jas.

Pria besar itu melewatiku dan mengunci pintu depan dan memasang tanda “TUTUP”. Aku pernah bertemu Dirk sekali, saat aku datang dan mempermalukan diriku sendiri setelah Shep putus denganku. Dirk adalah asisten manajer toko ini. Tubuhnya besar dan berjanggut lebat. Dia mirip sekali dengan beruang grizzly. Tampaknya dia pria yang ramah, Shep tak pernah berbicara buruk tentangnya. (more…)

1382423_1393419477557203_1247078967_nAKU bisa merasakan Shep memerhatikanku saat aku melepas pakaian hingga hanya mengenakan kaus dan celana pendek saja. Kutarik selimut lalu merangkak ke atas ranjang.

Shep melucuti pakaiannya hingga tersisa celana boxernya saja yang dia kenakan. Dia terdiam sesaat, kemudian melepasnya dan melempar celana itu ke keranjang. Aku tak bisa menahan diri untuk tak mengintip sekilas penisnya, tergantung lemas di antara kedua pahanya, kulupnya menutupi seluruh kepalanya. Pandanganku menjalar ke arah perutnya yang berbulu, lalu dada, dan terakhir wajahnya. Shep memandangiku saat dia memanjat ke atas ranjang dan berbaring di sebelahku.

“Kenapa pake baju?” dia bertanya pelan sambil menarik kausku.

“Aku agak capek,” jawabku malas, mengalihkan pandangan dari matanya. Melihat cara Shep menatapku membuatku merasa bersalah telah menggunakan alasan yang klise.

“Ah, baiklah,” katanya sambil menghela nafas dan berbaring telentang. Shep menatap langit-langit kamar sejenak, lalu menoleh ke arahku. “Aku akan menandatangani surat perjanjian perceraian besok, dan kemudian ada sesi dengar pendapat juga.”

“Baiklah, aku ikut denganmu.”

“Gak usah.”

“Tapi aku mau ikut. Terutama karena Wendy akan datang juga.”

Shep terdiam sesaat sebelum akhirnya dia bertanya pelan, “Kau tidak percaya padaku, ya?” (more…)