Archive for April, 2013

gay-love_125852009GILA enggak sih? ya emang! soalnya gue jatuh cinta sama bokap gue sendiri. Gimana enggak! my dad is a real hunk! gue yang saat ini berumur 17 tahun punya bokap yang masih hot di usianya yang empat puluh tahun. Sebagai pemilik pusat kebugaran sekaligus personal trainer, bokap dituntut untuk memiliki body yang stay in shape. Mmm… gue sendiri kagum sama bokap gue yang otot-otot di tubuhnya masih terpahat sempurna.Ditambah lagi wajahnya yang memang tampan dan menurun padaku. Sialan! gue suka benci sama gay-gay yang datang ke fitness center punya bokap. Gue sendiri emang malas nge-gym, makanya gue geregetan ngebayangin mereka pada fliting-flirting sama bokap gue. Gak ada yang boleh deketin bokap gue! soalnya gue yakin, mereka rela diapa-apain seandainya bokap gue tergoda sama mereka. huh! (more…)

ImageAKU hanya mampu memacu mobilku hingga sekitar satu mil saja sebelum akhirnya harus menepi. Aku sangat gemetaran sampai-sampai tak mampu menyetir. Kuparkir mobilku dan terhenyak, menyandarkan dahiku pada stir mobil.

Aku terlonjak saat ponselku berdering. Kuangkat dan terlihat nama Wilson di layarnya.

Suaraku gemetar saat menjawab telepon itu. “Halo?”

“Hey, Billy, Ini aku. Kau baik-baik saja?”

“Um… Yeah, aku tak apa-apa,” kataku berbohong.

Hening cukup lama, lalu Wilson bertanya, “Apa itu benar?”

“Apanya yang benar?”

“Kau telah menggoda Shep?”

“Aku… bukan seperti itu, Wilson.” (more…)

ImageAKU bangun keesokan paginya saat Shep terbangun sambil menggerutu. Tanpa bersuara dia beranjak ke kamar mandi dan aku menyusulnya bangun. Kuseka kacamataku dan memakainya. Kupakai kaus dan celana pendek lalu pergi ke dapur. Saat melewati kamar mandi, aku bisa mendengar suara Shep sedang kencing.

Aku membuat seteko kopi dan membuka kulkas. Kubungkukkan badanku dan melihat-lihat apa yang bisa kubuat untuk sarapan.

“Hei…”

Aku mendongak saat Shep berjalan di dapur hanya mengenakan celana pendek, seperti biasanya. Wajahnya tampak malu-malu. Matanya terlihat gugup, tak tahu harus melihat ke arah mana.

“Pagi,” sapaku. “Aku mau masak omlet untuk sarapan.”

“Oh, tak usah repot-repot,” jawabnya. Matanya akhirnya berani menatapku.

“Tak merepotkan, kok.”

“Yah… kalau kau memang mau.” (more…)

ImageMALAMNYA, aku membuat spageti dengan saus Italia. Hal yang mudah untuk kumasak, tapi rasanya sungguh enak. Aku juga membuat roti bawang dan salad untuk makan malam. Shep bilang menyukai masakanku dan mengambil dua porsi untuknya sendiri. Dia membungkus sisa makan malam untuk dibawa besok kerja. Hal itu selalu membuatku merasa senang saat Shep antusias membawa masakanku ke tempat kerjanya. (more…)

Ahron Villena  Cosmo BashHARI berikutnya saat sarapan semuanya terulang… Shep dengan celana pendeknya membuatku horny dan terganggu.

Saat pulang kerja, aku membuat lasagna dan menghangatkan roti bawang putih. Shep memuji masakanku dan membuatku tersanjung.

Setelah makan malam, kami beristirahat di ruang tamu sambil menonton tv. Shep membuka kausnya dan melepas kancing celananya sambil bersantai di sofa. Dia duduk di sebelah tanpa sadar akan efeknya padaku.

“Aku ngobrol sama pengacaraku hari ini,” kata Shep tiba-tiba.

“Sungguh?”

“Yeah. Aku mengajukan gugatan cerai. Ibuku bilang kalau aku berbuat kesalahan besar, tapi aku sudah tak tahan, Billy.”

“Aku juga tak tahu bagaimana kau bisa bertahan dengan Wendy bertahun-tahun.”

Shep tertawa kecil. “Yah. Dia lumayan oke kok,” ujarnya sambil nyengir. Aku mendelik seolah menyatakan tak tertarik dengan detil ceritanya. (more…)

RT_IMG_0423BWAKU merasakan kantuk saat duduk di sofa menonton serial “Friends”.

Suara gedoran di pintu membuatku terjaga. Aku bangun, meregangkan badan dan beranjak ke pintu depan. Aku membuka pintu dan kudapati kakak iparku, Sheppard Bannister, berdiri di lorong tampak menyedihkan dan kuyu. Kedua lengannya dia masukkan ke dalam kantong celana jeansnya.

“Shep,” kataku terkejut. Kulirik jam dinding dan waktu menunjukkan jam 11.45 malam. “Kau kenapa?”

“Hey, Billy. Bisakah aku menginap malam ini?”

“Oh. Uh, baiklah.”

Aku membuka pintu lebar-lebar dan mempersilakan Shep masuk. Dia memungut tas duffel nya yang berada di lantai. Aku menutup pintu dan menguncinya. Aku sedikit malu berdiri di situ dengan hanya memakai kaus dan celana pendek, tapi memang aku sedang tak mengharapkan kedatangan tamu. Kami berdiri canggung dalam diam selama beberapa saat. (more…)