Laptop Bang Farid (Bag. 1)

Posted: September 19, 2012 in Cerita XXX
Tags: ,

iStockphoto

MEMANG susah kalau punya tetangga rumah yang ganteng dan hot macam Bang Farid. Bang Farid adalah tetangga baru di dekat rumahku sejak setahun lalu. Usianya yang kepala tiga membuatnya dia berada di era “matang-matangnya” seorang pria. Dia sudah beristri seorang guru dan memiliki seorang putra yang duduk di kelas dua SD. Bang Farid sering menyapa aku kalau berpapasan. Aku? namaku Ruslan. 19 Tahun. Sejak mulai kuliah, sekarang aku selalu bangun dan berangkat agak siang dan tidak setiap hari ada perkuliahan. Sejak saat itulah aku menjadi semacam ‘pengintai’ terhadap Bang Farid. Aku sendiri memang lebih menyukai dan tertarik secara seksual kepada kaum pria. Walaupun katanya tampangku sanggup membuat patah hati gadis-gadis jika aku mau, itu sama sekali tidak mempengaruhiku.

Mengintai Bang Farid pagi-pagi adalah rutinitas baruku setiap pagi. Istrinya yang guru biasanya berangkat pagi hari jam setengah tujuh menggunakan motor. Bang Farid yang memiliki beberapa buah toko perlengkapan fotografi biasanya berangkat sekitar jam sembilan karena mall tempat salah satu tokonya yang terbesar baru buka jam sepuluh pagi. Aku mengawasinya dari kamarku di lantai dua tersembunyi dari pandangannya. Bang Farid biasanya melepas kepergian istri dan anaknya yang naik motor hanya dengan menggunakan handuk. Aku bisa melihat Tubuhnya yang berkulit terang dan tampak hasil latihannya di gym itu dengan rambut-rambut halus di pusarnya yang menjalar terus ke balik handuk menuju *ehm* nya membuatnya terlihat seksi. Kepalanya yang selalu dibiarkan cepak dan nyaris botak itu membuat wajah tampannya mirip dengan Agastya Kand**. Cuma sesaat, setelah itu dia biasanya kembali ke dalam rumah dan bersiap untuk berangkat. Tapi itu cukup membuat kepalaku cenat-cenut dipenuhi fantasi liarku bersama Bang farid. Kalau sudah begitu, biasanya aku akan ber-onani sambil membayangkan Bang Farid sedang mencumbuku. Kalau aku ‘beruntung’, Bang Farid akan berlama-lama di teras rumahnya sambil mengulik motor kawasak* hitamnya dengan hanya menggunakan handuk terlilit di pinggangnya. Tentu saja, beberapa kali aku bisa melihat handuk itu kesulitan menutupi sesuatu yang menonjol di selangkangannya. Aku hanya bisa menebak-nebak seberapa besar ‘senjata’ Bang Farid karena terus terang pemandangan itu membuatku sulit bepikir dan berkonsentrasi.

Pagi itu seperti biasa, aku mengintai Bang Farid dari kamarku. Setelah melepas istri dan anaknya pergi, dia seperti termenung berdiri di dekat pagar rumahnya sambil bertolak pinggang. Tiba-tiba dia menoleh ke atas tepat ke arahku yang sedang mengintip dirinya. Aku yang terkejut terjatuh dari kursi walau sedetik kemudian aku yakin Bang Farid tidak bisa melihatku sedang mengintainya. Kemudian aku memberanikan diri mengintip kembali ke teras rumah Bang Farid. Ternyata dia sudah tidak ada. Mungkin masuk ke dalam. Kemudian aku baru teringat. Orangtuaku yang sudah berangkat kerja biasanya mengingatkan aku untuk mengeluarkan kantung sampah dan meletakannya di luar karena hari ini adalah jadwal petugas kebersihan mengambil sampah dari tiap rumah di komplek. Tapi aku tidak ingin keluar karena takut bertemu Bang Farid. Siapa tahu tadi dia benar-benar mengetahui kalau aku sedang memerhatikannya. Membayangkan apa yang dipikirkan Bang Farid memang menakutiku, tapi lebih ngeri lagi kalau Mama sampai marah hanya karena sampah yang belum dibuang karena aku tidak menaruhnya di luar rumah.

Kemudian aku pelan-pelan keluar rumah. Setelah yakin kondisi aman (tidak terlihat ada Bang Farid di teras rumahnya), aku bergegas menuju pintu pagar tempat bak sampah penampungan sementara sebelum diangkut oleh truk sampah yang akan lewat. Setelah meletakan dua kantung besar berisi sampah, aku berbalik hendak masuk kembali ke dalam rumah. Tapi tiba-tiba Bang Farid sudah berdiri di terasnya lagi sambil menatapku tajam. Jantungku berdetak kencang mengira-ngira apa yang akan dikatakan oleh Bang Farid kalau memang dia benar memergoki aku mengawasinya dan berniat melabrakku. Aku tak berani menatap matanya walau sangat ingin melihat tubuh toplessnya yang terbalut handuk itu.

“Rus,” kata Bang Farid.

“Eh, pagi Bang…” sahutku gugup.

“Kamu bisa bantu abang?” tanya Bang Farid lagi. Suaranya setenang biasanya kalau dia menyapaku.

“Umm.. bantu apa Bang?”

“Laptop abang bermasalah. padahal abang hari ini mau stock opname barang di toko. Kamu bisa lihat sebentar?” pinta Bang Farid.

“Oh, boleh bang… mau eh.. sekarang?” tanyaku gugup.

“Iya. Kalau kamu gak sibuk, bisa tolong lihat dulu kira-kira kenapa.” Kata bang Farid lagi. Gestur tubuhnya mengajak aku masuk rumahnya. Dan aku tidak bisa menolak. Tidak kuasa menolak!

Aku mengikuti bang Farid masuk ke rumahnya. Aku menelan ludah saat melihat bokong sempurna miliknya yang terbungkus handuk bergerak seiring dengan langkah bang Farid. Seperti terhipnotis oleh pesona Bang Farid aku seperti melayang ikut masuk ke dalam rumahnya. Laptop hitam milik Bang Farid diletakkan di atas meja tamunya. Di sebelahnya berserakan kertas-kertas laporan entah isinya apa. Kemudian aku menghampiri laptop bang Farid dan mengamati layarnya. Sedikit berkurang kekhawatiranku walau berada dalam satu ruangan dengan Bang Farid cukup membuat adrenalinku meningkat.

“Rusaknya gimana bang?” tanyaku sambil serius memandang layar laptop. Aku duduk di lantai sementara Bang Farid berdiri di sebelahku.

“File program stok opnam nya enggak bisa dibuka. Loading lama sama ke-restart terus..” kata Bang Farid yang tiba-tiba mencondongkan badannya sehingga wajahnya yang mengamati layar laptop sangat dekat dengan wajahku. Dadaku berdesir saat menghirup aroma percampuran cologne dengan aroma alami tubuhnya.

“Eh.. ng.. kayaknya sih kena virus bang. Tapi abang udah ada antivirusnya di laptop. Paling tinggal discan aja tapi agak lama.” jawabku.

“Oya? bisa minta tolong buang virusnya? tolong tungguin sampe bersih ya? abang mau mandi dulu. Gapapa?” pinta Bang Farid.

“Gapapa bang.. aku tungguin..” jawabku sambil tersenyum.

Bang Farid kemudian masuk ke kamarnya. Sementara aku menunggu laptop bang Farid yang sedang proses scanning anti virus, aku mendengar dari kamar mandinya suara air tanda Bang Farid sedang mandi. Pikiranku melayang berkhayal ingin ikut mandi bersamanya sambil mengamati bar-progress scanning yang seakan berjalan sangat lambat.

“Bagaimana? udah beres?” tanya Bang Farid tiba-tiba. Dia rupanya sudah selesai mandi dan keluar dari kamarnya. Masih berhanduk dan sisa-sia air yang menempel di tubuhnya membuat bang Farid terlihat makin seksi.

“Ng… bentar lagi beres bang,” jawabku tanpa berani menatap Bang Farid lama-lama.

“Tungguin ya.. trus tolong kamu coba lagi jalanin programnya.” kata bang Farid. Dia berjalan menuju pintu keluar dan menutupnya. Aku keheranan melihat Bang Farid menutup pintu rumahnya. Secara reflek aku berdiri berniat untuk pulang.

“Abang aja yang jalanin deh. Udah beres sih kayaknya. Aku mau balik aja bang,” kataku gugup.

“Tanggung lah Rus… coba liatin dulu bisa jalan apa enggak program abang…” kata Bang Farid. Suaranya yang berat dan menggoda membuatku luluh dan menurut saat Bang Farid menuntunku untuk duduk lagi di lantai menghadap laptopnya.

“Kamu tegang amat Rus? lagi capek kah?” tanya Bang Farid. Tangannya mulai beraksi memijat pundakku. Bukan rileks yang aku dapatkan malahan semakin tegang. Apalagi aku bisa merasakan hembusan nafasnya dan… dan… aku merasakan dua puting Bang Farid yang keras menekan punggungku saat dia semakin merapatkan dadanya.

“Kamu suka ya sama badan abang?” tanya Bang Farid sambil terus memijat punggungku sementara mulutnya dia dekatkan ke telingaku. Aku tidak berani bergerak.

“Abang tahu kalo kamu sering perhatiin abang dari kamarmu.. iya kan Rus?”

Aku menelan ludah.

******

“Abang tahu kalo kamu sering perhatiin abang dari kamarmu.. iya kan Rus?”

Aku menelan ludah.

“Ah.. eng.. enggak kok bang..” kataku menyangkal.

“Oya? padahal abang yakin lho kamu sering perhatiin abang.” katanya sambil terus mendekatkan wajahnya semakin dekat telingaku hingga rambut-rambut halus disekitarnya kini mulai berdiri.

Aku tak bisa lagi terus berbohong. Kupejamkan mata dan mengangguk kuat-kuat. “Iya bang… Rus suka sama abang!”

Saat aku membuka mata, Wajah bang Farid sudah berada di hadapannya sambil menyeringai senang. Aku semakin gugup karena rahasia terbesarku selama ini sudah diketahui olehnya.

“Coba tebak? abang juga suka sama kamu Rus,” kata Bang Farid.

Jantungku semakin berdegup kencang, apalagi, tanpa meminta izinku, Bang Farid mulai bernafsu mencium bibirku. Inikah rasanya berciuman dengan pria? salah! inikah rasanya berciuman? seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Selama ini aku berkhayal bagaimana rasanya mencium seorang pria yang cuma berani kubayangkan dalam pikiran dan imajinasiku dan yang kulihat dari konten porno sesama pria. Dan mungkin aku hanya sejengkal lagi dari momen dimana aku akan merasakan sebuah pengalaman seksual bersama seorang pria. Lebih istimewa lagi, seorang pria yang selama ini aku kagumi dan ternyata dia menyukaiku walau secuil perasaan berbisik di hatiku mengatakan bahwa ucapannya tidak sungguh-sungguh dan hanya ingin memanfaatkanku. Tapi aku tidak peduli. Rasa bahagia karena seolah ini mimpi yang menjadi kenyataan menutupi pikiran buruk terhadap Bang Farid. Ingin rasanya mencubit diri sendiri untuk meyakinkan kalau ini semua bukan cuma mimpi, namun seluruh daging di tubuhku seolah berubah menjadi agar-agar dan sendi-sendi ku seakan copot dari tempatnya.

Aku kesulitan mengimbangi ciuman Bang Farid. Aroma maskulin sabun gel khusus pria yang menguar dari tubuhnya membuat nafsuku naik mencapai ubun-ubun. Mataku serasa berkunang-kunang dan telingaku berdenging. Aku pasrah saat telapak tangan bang Farid mencengkeram lengan bagian atasku sambil terus mencium bibirku sementara dia menarik tubuhku semakin rapat ke dalam pelukannya. Ketika Bang Farid meloloskan kaus yang kupakai dari badanku, sama sekali tidak ada penolakan. Aku masih malu-malu membalas cumbuan Bang Farid padahal Oh, Tuhan! ingin rasanya aku merasakan tiap inci dari tubuhnya yang biasa kukagumi dari jauh itu dengan tangan atau mulutku sekalian!

Aku menahan nafas sambil memejamkan mata. Aku yang telah membuka kausku membuat Bang Farid lebih leluasa menggeser cumbuannya semakin ke bawah, dari mulai leher hingga bagian atas dadaku. Tangannya yang kokoh melingkar di pinggangku mencoba menahan agar tubuh lemasku tidak terjatuh. Aku mendesis dan menggigit bibir bawahku saat lidah bang Farid yang basah dan hangat menyapu puting sebelah kananku.

“Bang… jangan bang… geli..” aku memohon. Sebenarnya bukan geli yang kurasakan, tetapi sensasi enak menjalar diseluruh tubuh. Aku merasa ragu seberapa lama bisa kutahan sampai akhirnya aku benar-benar lemas kehabisan tenaga karena cumbuannya.

Bang Farid tidak memedulikan protes penolakanku. Dia kemudian makin berani mengeksplorasi salah satu titik kenikmatanku itu dengan sapuan-sapuan lidahnya yang menekan, menghisap, dan melingkari puting dadaku itu. Tubuhku mengejang, akan tetapi Bang Farid yang lebih kuat dariku berhasil menahan tubuhku yang berusaha memberontak.

“Bang.. uh.. udah bang.. geli…” rengekku.

“Geli apa enak?” goda bang Farid.

Aku tak menjawab, karena apa yang ditanyakan bang Farid itu benar. Bukan Geli, tapi enak! Kemudian Bang Farid beralih ke puting dadaku satunya lagi. Huffft… Bang Farid memang jago memanfaatkan lidahnya untuk mencumbuku.

“Ngggg…..” aku cuma bisa bergumam tak lagi memprotes. Tangaku mencengkeram punggung bang Farid mencoba menahan sensasi nikmat dari cumbuannya. Akibat dari aktifitas itu, handuk yang melingkar di pinggang ramping bang Farid seakan terlupakan dan akhirnya terjatuh ke lantai.

Kami berdua menghentikan gerakan dan melihat pada handuk yang terjatuh itu. Tentu saja, handuk yang jatuh itu menyingkap sesuatu yang selama ini hanya bisa kubayangkan bentuk dan ukurannya saja. Aku meneguk ludah ketika akhirnya bisa melihat penis bang Farid. Seperti yang kubayangkan selama ini.. ujarku dalam hati. Oh, bukan! lebih daripada yang kubayangkan selama ini tepatnya.

“Kamu mau kenalan dulu sama adek abang?” tanya bang Farid menggoda. Tatapan matanya benar-benar menghipnotisku. Aku pun mengangguk.

Kemudian bang Farid duduk di atas sofa. Kedua pahanya dibuka lebar-lebar. telapak tangannya dia letakkan di belakang kepalanya. Sambil tersenyum dia berkata, “Ayo kenalan dulu Rus, adek abang udah ga sabar nih.. tuh, lihat.. udah keras gara-gara kamu..”

Aku menurut. Segera aku berlutut di antara kedua paha Bang Farid. Inilah pertama kali aku memberikan servis oral kepada seorang pria. Semua yang kupelajari dari film porno kucoba praktekkan. Herannya, aku sendiri merasa seperti seorang profesional, didorong rasa ingin menyenangkan Bang Farid, dan rasa penasaran menjelajah seluruh bagian penis Bang Farid yang selama ini jadi fantasiku.

“Uhhhh…..” Bang Farid mengeluarkan suara seperti keluhan saat aku mencoba memasukkan pelan-pelan seluruh batang penisnya ke dalam mulutku setelah puas kubasahi dengan lidahku. Punggungnya melengkung dan kepalanya dia tarik ke belakang. Aku tahu, aku melakukannya dengan benar, karena Bang Farid sepertinya benar-benar merasa keenakan. Setelah berhasil memasukkan hampir seluruh batang penisnya, aku mendiamkannya lama berada di dalam rongga mulutku. “Mmmm….” aku bergumam saat lidahku menari-nari mempermaikan penis bang Farid.

“Huufh… kamu jago Rus…” puji Bang Farid dengan nafas yang makin cepat. Dia menatapku dan mengusap kepalaku saat melemparkan pujian itu. Aku merasa senang.

Setelah cukup lama aku membiarkan penis Bang Farid dimulutku hingga aku sulit bernafas, aku mengeluarkannya sambil terengah-engah. Penis bang Farid kini sudah tampak mengilap dan memerah basah oleh liurku. Tapi aku penasaran. Aku yang percaya diri, ingin membuat bang Farid klimaks hanya dengan servis oralku. Walau aku ragu karena Bang Farid yang berpengalaman tentu saja mungkin menganggap hal itu hanyalah sekadar foreplay belaka. Namun Bang Farid ternyata lebih agresif. Dia mengambil inisiatif untuk menahan paksa kepalaku dengan telapak tangannya dan membuatku terbatuk-batuk dan mengeluarkan airmata karena mulutku penuh oleh batang penisnya. Bang Farid terkekeh melihatku terengah-engah namun tersenyum karena menikmati.

Dan yang kukhawatirkan pun tiba. Bang Farid membisikkan sesuatu di telingaku, “Rus… abang masukkin kamu ya?” Aku terkesiap kaget.

“Tapi bang… aku belum pernah….” protesku.

Bang Farid menyeringai penuh arti. Seperti serigala yang mendapat buruan daging segar, dia pun tak bisa menyembunyikan kegembiraannya karena berpeluang mendapatkan keperjakaanku. Maka Bang Farid mulai melancarkan rayuan mautnya.

Bersambung…

 

Laptop Bang Farid (Bag. 2)

Comments
  1. Bambang says:

    Yg ini jg blm ada lanjutannya.

  2. mahesa says:

    mana sambunganny nih

  3. achmad nuryakin says:

    hemm

  4. Rizky says:

    Part 2 nya mana bang??

  5. julio santos says:

    kok ceritanya bersambung mulu sih bro, serius, gak seru lah. jadi kami bacanya nanggung2 nih… yg langsung tamat kan asik bro…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s