Menjebak Pasha Ungu

Posted: September 14, 2012 in Cerita XXX
Tags: , ,

Rey-chan tidak pernah menyangka bahwa hari Kamis yang sepertinya biasa-biasa saja berubah menjadi sebuah pengalaman yang tidak akan pernah dia lupakan. Seperti biasa Kamis pagi itu sebelum Kebun Raya Bogor dibuka untuk umum, dia sudah sibuk menyiapkan stand pamerannya. Ini adalah hari ke tiga Rey dan tiga orang teman kampusnya berada di Kebun Raya untuk meramaikan Pekan Pameran Flora.

Setelah hampir tiga puluh menit berkutat dengan kegiatannya memajang beberapa pot dan merapikan display pameran, Rey memilih untuk beristirahat di sebuah kursi tak jauh dari tempatnya berdiri. Sambil mengipas-ngipas wajahnya dengan tangannya sendiri mahasiswa bertampang imut berusia 20 tahun itu mencari-cari sesuatu yang bisa digunakan untuk mengipas-ngipas badannya yang sedikit berkeringat. Akhirnya dia menemukan sebuah koran yang tergeletak di meja dekat ransel Yan, kawannya. Kemungkinan besar koran itu adalah miliknya.

Rey melirik headline koran bertanggal hari itu yang tulisannya tercetak tebal-tebal: “Pasha Ungu Jadi Tahanan Kota” . Rey mengerutkan dahinya hingga alisnya bertaut. Sekilas dia membaca beberapa kalimat berita itu.

“Kasus tindak kekerasan Pasha terhadap mantan istrinya Okie Agustina berbuntut panjang. Kini Pasha telah resmi berstatus tahanan kota. Hal tersebut diungkapkan oleh Jaksa Agung Pidana Umum (Jampidum), HB. Permadi saat ditemui di Kejaksaan Negeri Cibinong, Bogor, Rabu (25/11/2009). Status ini tentu menyulitkan mobilitas Pasha, mengingat aktivitasnya dengan bandnya Ungu. Namun pihak kejaksaan bersikeras tak akan memberi bapak tiga anak itu keleluasaan dengan alasan apapun. Kasus pemukulan Pasha terhadap gitaris Marvells, Idea adalah salah satu yang memberatkannya. Pasha sempat memohon ijin untuk keluar dari Bogor demi pekerjaannya. Sayang permintaannya itu tak bisa dipenuhi.”

Kemudian Rey mengamati foto Pasha yang terpampang di koran itu. Selama ini Rey tidaklah terlalu nge-fans dengan pasha Ungu, namun foto Pasha yang mengenakan kemeja putih dengan lengan panjang tergulung hingga siku dan potongan rambut model spike nya membuat Duda beranak tiga itu terlihat sangat keren buat Rey.

“Heh! Serius amat bacanya?” Ucapan Yan mengagetkan Rey hingga terlonjak dari tempat duduknya.

“Deuuuh… pandangin aja terus foto tuh duda keren…..” ledek Yan setelah dia melihat apa yang sedang Rey seriusi baca.

“Ssssssst!!! ikh! kenceng-kenceng aja yah kalo ngomong??!” protes Rey melotot sambil meletakkan telunjuk pada bibirnya.

“Hahaha… paranoid banget sih? sini! gue liat! gue aja belum baca ni koran, lu dah bikin lecek aja.” Kata Yan sambil merebut koran dari genggaman Rey kemudian dia ikut duduk di sebelah Rey sambil memaksanya bergeser.

“Hmm.. sejak kapan lu ngefans sama Pasha?” Tanya Yan. Kali ini dengan volume yang lebih pelan. Yan adalah sahabat Rey sejak mereka berdua masuk kampus dan tinggal di kosan yang sama. Yan adalah cowok straight yang pernah disukai Rey namun setelah Rey mengakui hal tersebut, Yan menolak halus cinta Rey dan hanya bisa menawarkan persahabatan sejati.

“Hehe.. enggak juga sih.. cuma tumben pake kemeja putih gitu jadi keliatan lebih keren…” cengir Rey.

“Masa sih?” kata Yan sambil lebih memerhatikan foto di koran itu lebih seksama.

“Iya juga ya? model rambutnya juga ker… heh! jangan ngeliatin gue sambil berbinar gitu deh! gue bilang kayak gitu bukan berarti dah pindah orientasi!” Kata Yan kesal sambil mendorong wajah Rey dengan telapak tangannya, sementara Rey terkekeh.

“Eh..eh.. coba lihat deh.” Rey menunjuk foto Pasha.

“Ada apaan?” tanya Yan tak mengerti.

“Itu…. Pasha kok pake cincinnya di jari tengah yah?”

“Emang kenapa kalo make cincin di jari tengah?”

“Kata temen gue siiiih… itu kan ciri khasnya Binan… jangan-jangan…” ujar Rey sambil menerawang.

“Huuuu… ngarrrreeeeeepppppphh!!” lagi-lagi Yan mendorong muka Rey dengan telapak tangannya hingga Rey nyaris jatuh tetapi Rey makin terbahak.

“Udah ah! pagi-pagi udah mikir ngeres aja nih anak.. ntar bukannya jaga stand.” Yan berkata sambil melipat korannya.

“Ih.. kok dilipet sih korannya? gak rela gue pinjem yah? apa entar mau dicium-ciumin fotonya?” goda Rey.

“Enak aja!” Yan kali ini memukul kepala Rey dengan korannya.”Eh.. bantuin gue dong! tolong kembali-in tas perkakas ke rumah Pak Was…” Pak Was adalah Petugas di Kebun Raya yang memiliki rumah dinas di salah satu

sudut taman wisata-pendidikan terluas di kota Bogor tersebut. Kemarin Yan meminjam perkakas alat pertukangan darinya untuk memperbaiki beberapa pot dan papan yang rusak.

“Kenapa musti gue sih? jauh kan rumahnyaaaa! ujung ke ujung nih!” Protes Rey.

“Haduuuh.. milih mana? bantuin ngangkat papan-papan berat dari stand ujung bareng gue apa ngembaliin itu tas??!”

Rey bimbang. Dia agak malas kalau harus mengangkat papan-papan tebal yang lumayan berat itu.

“Iya deh.. gue anterin tas aja…” sungut Rey.

“Nah.. gitu dong… gue tahu elu bakalan gak mau ngangkat-ngangkat barang. tuh kunci rumahnya di gantungan… nanti jangan lupa kunci lagi kalau udah naro. Pak Was pasti lagi gak ada di rumah.”

Kemudian Rey beranjak dari duduknya. Dia berjalan menuju gantungan tempat kunci itu ditaruh lalu mengangkat tas perkakas yang diletakkan oleh Yan dekat dengan tumpukan pot.

“Hufff… anjrit!! berat banget!!” rutuk Rey dalam hati. Baru saja dia mau memprotes Yan dan memakinya namun anak itu telah menghilang.

Terpaksa Rey akhirnya mengangkat juga tas berat itu. Rumah Pak Was agak jauh dari stand lokasi pameran. Benar kata Rey tadi. Lokasinya hampir dari ujung ke ujung jauhnya. Rumah dinas pekerja Kebun Raya terletak di dekat pagar taman yang berbatasan dengan sungai ciliwung. Hanya terdiri dari beberapa rumah mungil yang terdiri dari dua ruangan saja berpetak kecil dan bercat hijau. Rey berjalan tertatih melewati lapangan dan merasakan tangan kanannya sudah terasa pegal menjinjing tas itu.

Kyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…. Rey tiba-tiba dikagetkan oleh suara jeritan beberapa gadis yang berlari terburu-buru hingga hampir menabraknya. Rey mengikuti ke mana arah gadis-gadis itu berlari. Beberapa Ibu yang sedang menggendong anaknya juga terlihat berjalan cepat mengikuti para gadis itu. Dari perbincangan yang samar yang terlontar dari mulut beberapa ibu itu, Rey menangkap bahwa Kebun Raya ini didatangi oleh Pasha Ungu dan beberapa anggotanya.

“..dijaga bodyguard katanya mah..” ucap seorang ibu berkerudung oranye sambil melongok-longok ke arah kerumunan.

Sempat tertarik untuk melihat, Rey akhirnya mengurungkan niatnya menuju kerumunan beberapa puluh meter dari tempatnya berdiri karena dia merasa harus segera mengembalikan tas berat tersebut ke tempatnya karena tak tahan dengan beratnya.

Setelah sepuluh menit berjalan, akhirnya Rey tiba di rumah Pak Was. Dia menaruh- nyaris membanting- tas perkakas itu di teras salah satu rumah mungil itu dan merogoh kantung jeansnya untuk mengambil kunci. Tapi alangkah herannya Rey saat dia menyentuh pegangannya, pintu itu terdorong karena tak terkunci.

“Halo? Pak Was? aku mau ngembaliin tas nih pak… bapak ada di rumah?” Panggil Rey sambil mencoba melongok ke dalam rumah yang terlihat cukup gelap.

Kemudian Rey merasa tidak nyaman. Itu karena dia menyadari ada orang lain di dalam rumah itu namun sepertinya dia tidak ingin keberadaannya diketahui. Lalu Rey mencium bau parfum. Parfum mahal khusus pria dan wanginya semakin lama semakin tercium. Jantung Rey berdegup kencang saat merasa sesosok gelap berjalan tergesa ke arahnya. Rey tidak bisa menangkap wajah orang itu. Dia berusaha untuk berlari keluar namun dia merasakan lengannya dengan kasar ditarik oleh sosok itu dan mulutnya dibekap oleh telapak tangan hingga punggungnya merapat kepada siapapun orang yang melakukan itu.

Rey mencoba berontak namun tenaga orang itu lebih besar. Rey mencoba berteriak, namun pikirannya mengatakan bahwa orang ini sebenarnya tidak berniat jahat. Mungkin juga itu dikarenakan parfum yang dipakainya sehingga menjadi semacam aroma terapi yang menenangkan perasaan Rey. Sambil berusaha melepaskan lengannya kemudian Rey melihat di keremangan cahaya jari-jari orang itu. Pada jari tengahnya terlingkar cincin yang dikenalnya: cincin yang Rey lihat pada foto di koran.

***********

“Ssssst…” orang itu berbisik.

“saya akan lepasin kamu… tapi kamu janji jangan teriak…” kata orang itu pelan. Rey mengangguk mengiyakan. Kemudian orang itu melonggarkan cengkeraman tangannya dan membuka tekapan telapak tangannya dari mulut Rey. Rey buru-buru menoleh dan dari dekat walau didalam pencahayaan yang kurang, Rey bisa mengenali wajah orang itu. Ya! Pasha Ungu lah yang ternyata sedang berdiri di belakangnya dan baru saja menyekap dirinya. Wajahnya terlihat kurang senang.

“Pa.. Pasha?” tanya Rey.

Pasha kemudian menekan tombol lampu dan seluruh ruang tamu rumah Pak Was menjadi lebih terang. Rey melihat Pasha saat itu memakai kaus biru dengan jaket kulit yang terlihat mahal. Wajahnya kini semakin jelas terlihat kesal dan sambil menggaruk-garuk kepalanya dia mengumpat kesal. “Katanya enggak bakal ada yang datang kemari!” ujarnya sambil mondar-mandir. Tiba-tiba Pasha menatap tajam kepada Rey dan lalu menghambur ke arahnya dan mendorong tubuh Rey ke dinding sambil menahan dadanya.

“Kamu wartawan? atau dari kepolisian?” tanya Pasha sambil melotot.

“Ma.. maaf.. saya cuma mau ngembaliin tas…” ujar Rey gugup. Dia menunjuk ke arah teras yang pintunya terbuka tempat tas perkakas milik Pak Was yang dia letakkan tadi. Pasha kemudian melepaskan tubuh Rey dan berlari ke teras. Buru-buru dia menarik tas itu ke dalam ruangan dan membanting pintu serta menguncinya. Dari balik gorden dia mengintip keluar mengedarkan pandangan was-was ke seluruh halaman.

“Satu milyar… satu milyar…!” gumamnya panik.

“Ng… maaf?” tanya Rey. Dia masih belum berani bergerak dari tempatnya berdiri khawatir Pasha akan berbuat sesuatu yang menyakitinya.

“Kenapa juga harus ada penahanan kota sekarang sih? sial!!” umpatnya lagi seperti tak memedulikan keberadaan Rey.

“Soal tahanan kota itu ya?”

“IYA!!” potong Pasha kencang. “Saya hari ini ada syuting untuk iklan… dan kalau sampai dibatalkan secara sepihak oleh saya, orang itu bakal tuntut saya penalti satu milyar!! Anj1ng!” teriaknya sambil menendang meja.

Rey meneguk ludah ngeri. Kemudian dia melihat Pasha bergegas ke arah tas ransel di kursi ruang tamu dan mulai mengeluarkan isinya. Ternyata dia mengeluarkan topi pet, kaus hitam dan sweater biru gelap dari dalamnya.

“Ng.. bukannya tadi ada di dekat lapangan yah?” tanya Rey pelan-pelan.

“Itu bukan saya.. cuma mirip saja.. saya harus kabur ke Jakarta tapi polisi dan wartawan tidak boleh tahu.” Jawab Pasha sambil sibuk membongkar isi ranselnya tanpa menoleh ke arah Rey.

Pasha dengan cepat membuka jaket kulitnya kemudian disusul kaus birunya. Jantung Rey serasa berhenti berdegup melihat Pasha bertelanjang dada tak jauh darinya. Sadar diperhatikan, Pasha menoleh ke arah Rey. “Kamu kenapa?” tanyanya.

“Eh.. enggak.. enggak kenapa-napa..” jawab Rey sambil buru-buru menoleh ke arah lain. Wajahnya terasa panas.

Tiba-tiba muncul ide nakal dalam benak Rey. Kalau tidak dicoba sekarang, kapan lagi? pikirnya. Lalu Rey berlari ke arah pintu dan mulai berteriak…

“Heeeey…!! Pasha Ungu ada di sin…”

Ucapan Rey terpotong karena Pasha dengan panik kembali menarik tubuh Rey dan menekap mulutnya. Kali ini pelukannya lebih kencang. Rey nyaris meleleh menyadari tubuhnya dipeluk oleh Pasha yang bertelanjang dada.

“Kamu mau cari perkara ya?” Ancam Pasha kesal sambil mengguncang tubuh Rey. Rey tidak menjawab melainkan tersenyum sinis penuh arti.

“Saya enggak bakalan teriak kalau bang Pasha bersedia melakukan sesuatu…” ujar Rey.

“Apa itu? uang? tiket konser Ungu? Tandatangan? Foto bareng?” tanya Pasha bertubi-tubi. Sepertinya dia sudah mencium aroma pemerasan yang dilakukan Rey.

“Hmfff… bukan itu..” dengus Rey nyaris tertawa.

“Apa?” tanya Pasha tak sabar sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Rey.

Kemudian Rey membisikkan sesuatu pada telinga Pasha. Wajah tampan Pasha mendadak berubah. Matanya melotot seram, Dia kemudian mundur beberapa langkah sambil menggelengkan kepalanya.

“Anj1ng! gak mungkin gua mau ngelakuin itu! gua bukan homo!” Kata Pasha nyaris berteriak.

“Satu kali enggak bakal bikin lo jadi homo… kecuali ini bukan yang pertama…” ujar Rey tenang sambil tersenyum. Merasa diatas angin, kepercayaan diri Rey meningkat tajam dan mulai berani memanggil Pasha dengan sebutan “lo”.

Pasha tak menjawab. Dia melangkah mundur menjauhi Rey sementara Rey malah semakin mendekat.

“Rasanya sama aja kalau sama cewek bang.. janji…” kata Rey lagi.

Pasha terdiam seperti berpikir keras.

“Malah kata orang… lebih enak kalau sama cowok, bang….” Rey nyengir menakutkan.

Pasha masih terdiam. Namun sepertinya pertahanannya sudah mulai goyah. “Ayolah bang… sekali-kali bikin penggemar senang kan gapapa… lagian… daripada harus kehilangan satu milyar? kan lumayan buat anak-anak bang…” bujuk Rey.

“satu milyar… lebih baik disimpan buat tunjangan si sundal okie itu sama anak-anak…” gumam Pasha sambil terlihat serius berpikir.

Akhirnya Pasha menghela nafas panjang pasrah. Dia menatap sayu Rey dengan tatapan penuh keterpaksaan. Lalu perlahan jarinya membuka pengait celana kulitnya dan menurunkan risletingnya. Melihat pemandangan itu, Rey nyaris memekik karena gembira. Sambil menggigit bibir karena bersemangat, Rey menghampiri Pasha yang sedang berdiri di pojok. Dia memalingkan muka dengan bertampang kesal bercampur tak berdaya. Dia tidak meneruskan membuka celana kulit mengilap ketatnya. Nafasnya turun naik karena gugup. Sesekali terdengar Pasha bergumam sialan.. sialan.. tapi hal itu sama sekali tidak menghentikan niat Rey.

Setelah dekat, Rey berlutut di depan Pasha. Wajahnya kini sejajar dengan selangkangan Pasha yang risleting celananya terbuka setengah. Saat Rey mencoba menurunkan risleting celananya, Pasha sedikit terlonjak mundur dan mendorong bahu Rey. Tapi Rey tanpa berkata apa-apa menatap tajam Pasha mengingatkan seolah berkata “Ingat! satu Milyar!” dan Pasha sambil menghela nafas kembali pasrah. Sambil menyeringai Rey kembali menyelesaikan perbuatannya membuka celana Pasha dan menurunkannya hingga ke lututnya. Kemudian perlahan dia menurunkan pula boxer short hitam bermotifnya Pasha dan matanya membelalak sambil bibirnya tersenyum puas melihat sesuatu dibaliknya… sesuatu yang tak ada seorang fans pun yang pernah melihatnya… kecuali pasti istrinya dan mungkin beberapa pacarnya setelah bercerai.

Tak perlu dideskripsikan di sini, namun penis Pasha yang sedang ‘tidur’ menurut Rey cukup menakjubkan. Pasha mendesis marah dan memundurkan pant4tnya penuh penolakan saat Rey mencoba menggenggam penisnya. Rupanya ide bahwa kejantanannya hendak dijamah oleh seorang pria sangat mengganggu pikirannya. Tapi dibawah ancaman Rey, Pasha memiliki  pilihan yang sangat sulit! Rey tahu pasti hal itu. Oleh karenanya, Rey terus berusaha melawan penolakan Pasha dan berusaha menggenggam penis Pasha dan mulai mengocoknya perlahan.

Setelah beberapa lama, penolakan Pasha membuat penisnya tak kunjung mengeras. Wajahnya memerah, pandangan wajahnya diarahkan ke mana-mana dengan penuh kekesalan. Beberapa kali dia mendengus marah. Rey sedikit kesal dengan tingkah Pasha, namun dia mencoba bersabar. Rey yakin, kalau lama kelamaan pertahanan Pasha akan runtuh oleh perbuatan yang dilakukannya.

Melihat gerakan tangannya tak membuahkan hasil, Rey mulai mencoba menggunakan mulutnya. Dia julurkan lidahnya hingga menyentuh ujung penis Pasha. Pasha terlonjak. Wajahnya masih memancarkan kekesalan. “Sialaan…” gumamnya pelan.

“Udah bang.. rileks aja kenapa? pengen cepat udahan kan?” tegur Rey.

Sesuai perkiraan Rey, pertahanan diri Pasha mulai jebol. Sedikit demi sedikit Penisnya mulai mengeras ketika Rey semakin aktif menggunakan lidahnya. Dia mendengus seolah tak rela namun rupanya otak dan keinginan penisnya mulai bertentangan. Wajahnya semakin memerah, nafasnya mulai tak beraturan, seolah malu pada Rey, Pasha memalingkan wajahnya jauh-jauh ke arah jendela.

Rey semakin bersemanagat. Servis oralnya belum pernah gagal sebelumnya. Kali ini dia mulai menjepit penis Pasha dengan kedua bibirnya. Terdengar lagi Pasha mendesis. Cuma kali ini Rey tidak bisa memastikan apakah desisan itu adalah desis marah, atau malah kenikmatan? Sementara penis Pasha yang semakin mengeras itu dibuat makin menyelusup ke dalam mulut Rey yang hangat dan basah, tangan Rey mulai aktif bergerilya menelusuri torso Pasha yang kulitnya sangat putih. Saat mulai meraba perut dan bergeser ke dadanya, Pasha beberapa kali menepis tangan Rey, namun lama kelamaan dia bosan dan membiarkan Rey melakukan apa yang dia suka dengan tubuh bagian atasnya yang tidak tertutup oleh pakaian.

Rey mencari-cari puting Pasha. Setelah menemukannya dia mulai memain-mainkannya. Tangannya merasakan badan Pasha mulai berkeringat. Namun efeknya malah membuat kuitnya terlihat mengilap dan seksi. Rey mendengar nafas Pasha mulai tak beraturan. Dari mulutnya terdengar suara seperi keluhan pelan, mungkin Pasha masih sangat jaim padahal sudah mulai menikmati. Dengan gerakan tiba-tiba, Rey melepaskan penis Pasha dari jepitan bibirnya dan mengulum kedua buah zakar Pasha sambil bergumam. Mendapat perlakuan tiba-tiba seperti itu dari Rey, Pasha terkejut, badanya terlonjak hingga kepalanya tertarik ke belakang dan membentur dinding. Matanya terpejam sementara kedua telapak tangannya reflek menjambak rambut Rey.

“Hmmmmh…..” keluhnya.

Seperti mendapat sinyal, Rey semakin bersemangat, tak cukup dia main-mainkan kedua buah zakar itu dia juga dengan nakal mulai menggigit-gigitnya lembut dan sesekali memijat dengan lidahnya. Lenguhan dari mulut pelantun lagu Demi Waktu itu semakin terdengar panjang dan keras. Ajaib! ketika Rey kembali mengulum batang penis Pasha, kali ini dialah yang mulai aktif memaju mundurkan pantatnya sambil kedua lengannya memegangi kepala Rey. Nafasnya makin memburu dan kedua matanya kini menatap wajah Rey dengan mulut yang sedikit terbuka karena mengeluarkan desahan.

Rey menghentikan gerakannya dan mengeluarkan penis Pasha yang telah basah dari mulutnya.

“Kenapa bang? enak ya? lebih enak dari lidah mbak Okie?” pancing Rey sambil nyengir, sementara matanya sendiri sudah mulai berair akibat terlalu bersemangat.

Pasha tidak menjawab, sambil mendengus kesal dia kembali melempar pandangannya ke arah lain tetapi tangannya menggenggam penisnya sendiri dan menyuapkannya kembali ke mulut Rey.

Beberapa lama Rey “menganiaya” penis Pasha dengan posisi berlutut. Susah payah Pasha ja-im menahan diri untuk tidak terlalu terlihat menikmati perlakuan Rey yang mengerahkan seluruh kemampuannya. Sia-sia Pasha berusaha menyangkal kehebatan Rey, karena Rey tahu… setiap tegukan ludahnya, desis pelannya, gerakan pahanya, serta naik-turunnya torso Pasha menggambarkan betapa sebenarnya dia memuji Rey dan kelincahan lidahnya. Timbul niat Rey untuk sedikit mempermainkan nafsu Pasha. Sebelah tangannya meraih telapak tangan Pasha, Sempat menolak karena bingung, Pasha menarik lengannya tapi dengan agak memaksa, Rey meraih jemari Pasha. Menggantikan penisnya, giliran jari-jari Pasha disapu oleh lidah Rey. Satu persatu jari Pasha dikulum hingga basah. Kemudian Rey memberikan konsentrasi penuh mengisap dan mengulum jari tengah Pasha. Sesuai dugaan Rey, tampak sedikit kekecewaan pada wajah Pasha karena Rey berhenti memberi servis pada “junior” nya. Puas membuat jari tengah pasha hangat dan basah oleh salivanya, Rey kemudian menuntun telapak tangan Pasha untuk menjambak rambutnya. “Fvck My Mouth!” seperti itulah yang diisyaratkan Rey agar Pasha melakukannya. Dan sepertinya Pasha mengerti. Tak perlu diberitahu Rey, Dia memegangi rambut Rey agar kepalanya tak bergerak, kini giliran pinggul Pasha yang maju-mundur sehingga penisnya terlihat keluar masuk mulut Rey.

Setelah beberapa lama, Rey kemudian menghentikan kembali gerakannya. Tanpa meminta persetujuan Pasha, dia mendorong tubuh vokalis band papan atas Indonesia itu ke atas sofa hingga tidur telentang. Nafas Pasha yang sedikit memburu terlihat dari dadanya yang mengilap itu naik turun, seolah-olah tak sabar menunggu apa yang akan dilakukan Rey selanjutnya.

“Lanjut, brengsek! lo udah bikin gue serba nanggung gini!” umpat Pasha kesal.

Rupanya nafsunya sudah sampai ubun-ubun. Mungkin dia juga sudah melupakan kekesalannya merasa diperas oleh Rey.

“Bang.. tutup aja matanya bang. saya pengen bikin abang lebih enak. Tapi kayaknya mending abang ngebayangin orang lain aja bang.” Ujar Rey sambil menyeringai. Rey kemudian melepas kausnya. Pasha yang sudah kena tanggung enak, agak kurang mengerti. Tapi dia menuruti juga perintah Rey untuk menutupi matanya dengan sebuah bantal sofa. Rey meneguk ludah berkali-kali melihat penis Pasha yang berdiri tegak dan mengilap karena saliva-nya. Rey ingin membuat pujaan para ABG itu merasakan nikmat persetubuhan secara anal. Tapi Rey agak ragu. Dia tahu, biasanya butuh waktu yang cukup lama untuk mengizinkan sebatang penis menjelajahi pantatnya yang jarang di’pakai’ itu. Tapi hey! ini Pasha Ungu! kapan lagi dia mendapatkan kesempatan seperti ini? Dengan cara apapun, harus dia yang menyesuaikan diri.

Waktunya tak banyak untuk menyenangkan anggota band ini. Kemudian dengan memantapkan hati Rey membuka celananya dan mulai naik ke atas tubuh Pasha. Kedua kakinya dia letakkan di sisi-sisi pinggang Pasha dan perlahan dia mulai berjongkok menurunkan badannya dan menyesuaikan diri agar ujung penis Pasha tepat berada di…

“Mmh…” Rey meringis sambil menggigit bibirnya saat dia membiarkan kepala penis Pasha yang tidak terlalu berpelumas walau basah oleh salivanya itu mulai memasuki lubang pantatnya. Sekilas dia melihat tubuh Pasha terlonjak, tetapi Pasha membiarkan saja apa yang tengah dilakukan oleh Rey. Rupanya jepitan pantat Rey pada penisnya meruntuhkan pertahanan Pasha. Rey mendengar nafas Pasha semakin memburu. Belakangan dia mulai aktif bergerak. Awalnya Pasha masih ragu menggenjot pantatnya agar penisnya melesak semakin dalam. Namun, kenikmatan dan nafsu sudah menguasainya. Dengan sigap lengan Pasha mencengkeram pinggang Rey, lalu, dia mulai menaik-turunkan pantatnya sehingga penisnya dengan cepat keluar-masuk lubang pantat Rey. Rey memekik sambil melengkungkan tubuhnya menikmati penetrasi penis yang besarnya lumayan merepotkan itu. Pasha sendiri melakukan itu sambil tak kuasa menahan erangan kenikmatan keluar dari mulutnya. Peluh mulai membasahi tubuhnya yang berkulit putih itu sehingga terlihat mengilap dan seksi. Rey memejamkan mata, seolah tak ingin momen ini cepat berakhir.

“Aaarrggh…. terus bang… enak banget bang…” Rey mulai meracau.

Pasha tak menjawab, tujuannya sekarang adalah selama mungkin menikmati pengalaman seks barunya sebelum berakhir dengan ejakulasi yang dia sendiri perkirakan akan lebih dahsyat dari pada biasanya. Selama belasan menit Rey membiarkan penis Pasha keluar masuk lubang pantatnya. Membiarkan vokalis tampan itu merasakan nikmatnya persetubuhan sesama pria. Sampai akhirnya…

“Enggggghhhhh…. mau.. keluar….” Ujar Pasha. Punggungnya dia lengkungkan sementara telapak tangannya makin keras mencengkeram pinggang Rey.

Dengan sisa tenaga yang ada, Rey mengetatkan otot-otot dinding pantatnya untuk memberikan sensasi jepitan luar biasa saat Pasha memuntahkan peluru cairnya. Dengan sekali hentakan, seluruh batang penis itu masuk ke dalam pantat Rey, berkedut-kedut dan akhirnya memuntahkan peluru cair panas di dalamnya.

“Aaaaaah…” tubuh Rey gemetar menikmati sensasi hangatnya sperma Pasha mengalir di lubang pantatnya. Sementara tubuh Pasha pun menggelinjang, menuntaskan ejakulasinya. Nafas keduanya tak beraturan. Perlahan penis Pasha mulai melunak dan keluar dengan sendirinya. Rey tak bisa menyembunyikan kebahagiaan yang terpancar dari senyuman di wajahnya. Pasha, walaupun menikmati permainan tadi, masih berlagak ja-im dan ketus. Segera dia berpakaian dengan terburu-buru. Namun keduanya terkejut saat pintu rumah terbuka dan muncullah si pemilik rumah.

“Sedang apa kalian di sini??” hardiknya.

-TAMAT-

Disclaimer: Cerita ini cuma fiktif belaka. Saya tidak tahu pasti orientasi seksual Pasha Ungu. Semua murni imajinasi saya sendiri. (by: Shishunki)

 

Advertisements
Comments
  1. hammam says:

    bikinin sequelnya dong!
    Pasti seru

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s