HS-5BHEART STATION
By: Abang Remy Linguini

Mungkin ada yang penasaran, novel Heart Station itu ceritanya apa ya? Penulis akan posting di sini, siapa tahu ada yang berminat buat beli novelnya. 😀

PART 5B – SANG PENGUNTIT

Aku sendiri heran, mengapa buih-buih soda minuman rootbeer yang melayang-layang pada gelas kaca yang berada didepanku itu menjadi sangat menarik untuk kuperhatikan. Mungkin karena aku masih belum berani menatap Iqbal lama-lama yang kini sedang duduk dihadapanku. Aku tidak sedang berselera makan, bahkan saat memesan di kasir beberapa saat yang lalu, aku lupa meminta mbak pelayan untuk menukar rootbeer dengan seven up kesukaanku.

Sebelum turun dari kereta Iqbal meminta waktu untuk berbicara dengannya. Barusan aku menelepon kantor dan bilang kalau aku akan datang agak telat pagi ini. Sudah lima menit lebih kami berdua diam. Read the rest of this entry »

imageBAGIAN 3

Cerita sebelumnya: Andro menjadi pengojek motor untuk menghidupi istri dan anak balitanya setelah perusahaan tempatnya bekerja ditutup. Kemudian dia berkenalan dengan Rizal, pelanggan setianya yang tiap malam diantar hingga ke rumah. Belakangan Rizal mengakui kalau dirinya seorang gay dan memiliki pacar yang berperilaku kasar. Merasa simpati, Andro mencoba meyakinkan Rizal untuk berhati-hati. Suatu hari, Andro menyelamatkan Rizal dari pertengkaran dengan pacarnya. Malam itu juga pertamakalinya Andro membiarkan dirinya diservis oral oleh Rizal. Bagaimana perasaan Andro selanjutnya?

Follow IG: @bangremy

HARI sudah terang, dan Andro belum bisa menutup mata sejak semalam. Rizal belum bangun. Hari Sabtu ini dia tidak pergi ke kantor. Masih terasa pada batang kemaluannya sensasi kuluman, isapan dan jilatan Rizal semalam. Yang membuat Andro merasa bersalah adalah, dia menikmatinya. Mungkin rasa bersalahnya tidak akan sebesar itu jika yang memberikan seks oral padanya adalah seorang wanita, misalnya. Tapi semalam dia menikmati rangsangan Rizal. Sampai keluar. Apakah sekarang dia menjadi seorang homo? pikir Andro.

Andro lalu bangkit dan menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan berganti pakaian. Dia sengaja tidak mandi karena ingin cepat-cepat pergi dari rumah Rizal. Perasaannya masih kacau. Saat dia mengenakan celana jeansnya, Rizal terbangun.
Read the rest of this entry »

Andro -2Bagian 2

RIZAL tak bisa menyembunyikan keterkejutan di wajahnya melihat Andro yang sudah ada di dekat rumahnya. Dia menduga-duga apa saja yang sudah dilihat pengemudi ojek itu. Begitupun Andro. Dia bingung bagaimana menjelaskan kepada Rizal akan keberadaannya di sana. Selama beberapa saat mereka berada dalam situasi yang canggung. Akhirnya Andro berinisiatif menyapa Rizal terlebih dahulu.

“Hey!” ujarnya sambil mendorong motornya mendekati Rizal.

“Eh.. Bang.. tumbenan? Erm.. maaf ya hari ini saya diantar pulang..” ujar Rizal mengulang pemberitahuan sebelumnya lewat SMS.

“Iya. Enggak apa-apa. Erm.. ini tadi saya lihat Mas lewat jadi sekalian saya ikutin. Soalnya mau.. mau… ambil boneka buat Naura yang kemarin mas Rizal bilang sudah belikan..” Andro lega akhirnya bisa menemukan sebuah alasan dia datang ke rumah Rizal dengan merujuk pada nama anaknya.

Rizal pun tampak menerima alasan Andro. Dia juga ikut lega. “Ah.. iya. Saya belum sempat kasih bonekanya. Maaf ya…” katanya. “Panggil Rizal aja bang.. enggak enak sama abang yang lebih tua. hehe.” lanjutnya.

“Oh.. iya Zal..” kata Andro.

“Sori Zal.. jadi ngerepotin. Maklumlah kalau anak kecil kan enggak bisa dijanjiin. Begitu cerita dibelikan boneka sama Om Rizal, dia tanyain terus tiap hari. Hehe..” ujar Andro lagi.

Masih sedikit canggung, Rizal mempersilakan Andro masuk ke pekarangan rumahnya. Andro memarkir motornya di teras dan kemudian duduk di kursi teras sementara Rizal membuka pintu rumahnya yang terkunci.

“Masuk aja Bang ke dalam.. Ngopi dulu, mau?” tawar Rizal simpatik. Read the rest of this entry »

Andro -1Follow my twitter and Instagram : @bangremy supaya makin semangat nulis

SEJAK perusahaan tempatnya bekerja mengurangi jumlah karyawannya, Andro terpaksa menyetujui dirinya di-PHK dengan imbalan yang cukup banyak. Cukup banyak namun sebenarnya dia lebih memilih untuk tetap bekerja sebagai karyawan di pabrik tersebut daripada tidak memiliki pekerjaan tetap. Apalagi dia masih muda. 30 tahun, dan sudah berkeluarga dengan dikaruniai seorang putri yang sekarang berusia 3 tahun. Andro terkadang merasa sedih saat menatap putrinya. Bagaimana masa depannya jika sampai waktunya masuk sekolah dia masih belum memperoleh penghasilan tetap.

Atas kesepakatan bersama dengan istrinya, Andro membeli sepeda motor untuk mulai menjadi tukang ojek. Tidak dengan cara dicicil karena akan sangat memberatkan. Itu sebabnya dia memilih untuk membeli motor yang dilelang karena pemilik sebelumnya tidak sanggup membayar cicilan. Kondisnyapun masih tergolong prima. Sedangkan istrinya memakai sebagian lagi uang pesangon untuk memulai usaha laundry di rumah dan membuka kios di pasar. Syukurlah, usaha mereka tergolong lancar dan mulai bisa menabung selain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mereka bergantian bekerja. Pagi hari, istrinya menjaga kios di pasar sementara Andro menjaga putri mereka dan mengerjakan titipan laundry sampai tengah hari. Saat istrinya kembali, dia beristirahat siang dan mulai mengojek pukul 4 sore dan kembali saat maghrib. Setelah itu Andro kembali menarik motornya dari jam tujuh hingga jam sebelas malam. Read the rest of this entry »

image

BERTAMBAHNYA kedekatanku secara seksual berbanding terbalik dengan makin sedikitnya waktuku bersama Haidir sebelum pria calon satpam itu keluar dari rumahku dan tinggal di asrama. Aku sebenarnya tak perlu berharap lebih daripada sekadar hubungan intim dengan Haidir. Toh, mungkin dia menganggap bermesraan dengan pria hanya sebagai selingan sebelum kembali ke kehidupan lamanya sebagai seorang playboy penghajar memek wanita. Mana mungkin Haidir akan punya perasaan lain? Aku terlalu terbawa perasaan. Tapi terus terang, Haidir sudah mencuri hatiku. Belum pernah kutemui orang seperti dia. Terlebih dia tadinya seorang straight yang akhirnya dapat aku taklukkan.

Itu sebabnya keesokan harinya aku murung. Lusa, Haidir sudah pergi. Aku berusaha ceria namun tak bisa menyembunyikan keresahanku.

“Kamu kenapa, Don?” tanya Haidir.

“Enggak kenapa-napa, Bang..” kataku sambil mengaduk nasi yang ada di piring asal-asalan. Aku sampai tidak nafsu makan siang itu.

Haidir hanya mengangguk-angguk sambil bergumam.

“Abang nanti malam ke kamar kamu ya?” godanya.

Read the rest of this entry »

image

BANG Haidir tak nampak keesokan harinya. Aku masih menebak-nebak apa yang dipikirkan oleh Haidir setelah kejadian semalam. Mungkinkah dia shock karena membiarkan aku, seorang pria, mengoral kontolnya dan dia menyukainya? Ah.. pasti dia sedang kebingungan sekarang. Jiwa straightnya terkoyak ketika menyadari dirinya menikmati isapan mulut pria. Aku berkeliling rumah mencarinya. Namun Haidir tak kelihatan. Setelah menyerah, aku bertanya pada Bi Suti.

“Si abang Haidir? Tadi pagi sih dia bilang mau cari baju satpam terus pamit keluar rumah,” kata Bi Suti.

“Loh? Ngapain pake beli? Orang dia bilang sendiri seragamnya bakalan dikasih selama training, kok..”

Read the rest of this entry »

image

RUMAH TRANSIT. Itu julukan yang kuberikan pada rumahku sendiri. Bukan apa-apa. Orangtuaku, terutama Papa memang membiarkan rumah yang cukup luas ini menjadi tempat penampungan sementara keluarga atau kerabat baik dekat maupun jauh yang hendak mengadu nasib di Jakarta. Lalu menurutmu aku tidak suka? Ah.. jangan salah sangka. Aku sendiri tidak pernah keberatan. Orangtuaku tidak mendidik aku supaya menjadi orang yang congkak. Senang rasanya jika ada teman di sini walau cuma sementara waktu karena aku terbiasa sendiri sebagai anak tunggal. Kadang-kadang kalau aku sempat, aku pasti akan mengajak jalan-jalan saudara jauhku yang biasanya datang ke sini dalam rangka transit itu keliling kota dengan motorku.

“Ingat ya, Doni… Kita harus bantu mereka. Dulu bapak dibantu orang saat baru merintis usaha di sini. Kalau kamu tolong mereka, enggak harus dari mereka, pertolongan akan datang buat kamu kelak jika kesusahan. Paham?” kata papa.

Tentu saja aku paham maksud papa. Jika kita berbuat baik, tentu kita juga akan mendapatkan pertolongan jika kesulitan. Seperti minggu lalu, aku kedatangan sepupu perempuan jauh dari desa. Dia menumpang sementara beberapa hari sampai dapat tempat kosan di dekat kampusnya karena memang sekarang sedang liburan akhir tahun ajaran sekolah dan kampus. Senang rasanya ada dia. Aku mengajaknya jalan-jalan dengan motorku dan kini dia sudah pindah ke tempat kost barunya. Tapi masa liburanku masih panjang. Saatnya aku menikmati ‘me-time’ ku di rumah. Papa dan mama akan pergi keluar kota selama seminggu, dan aku ditinggal di rumah hanya dengan Bi Suti, asisten rumah tangga kami.

Asyik! Itu artinya aku bebas mengurung diri seharian di kamar, nonton koleksi bokepku sampai masa liburanku berakhir dan aku kembali ke kampus untuk semester 3. Kupikir rencanaku akan terlaksana, namun rupanya Papa membawa berita baru. Ada yang akan menginap di sini selama orangtuaku pergi.

Read the rest of this entry »

image

By: Abang Remy Linguini

Cerita sebelumnya: Harrel dan Bhayu awalnya tidak akur di SMA. Beberapa kejadian menyatukan mereka sebagai sepasang kekasih. Setelah selesai kasus kematian Om Herlan dan pembalasan dendam dari istrinya, apakah hubungan mereka bisa terus bertahan? Di lain pihak, tetangga Harrel yang seorang polisi mengetahui hubungan Harrel – Bhayu dan sempat mencurigai mereka terlibat kejahatan. Belakangan polisi itu menerima kiriman surat kaleng ancaman berisi fotonya yang sedang bercinta dengan pria.

*Baca juga: KARTU MEMORI I – II, KISAH NICO

Disclaimer:
Kisah ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama, cerita, dan tempat, murni hanya kebetulan. Beberapa adegan mungkin terlalu eksplisit dan tidak disarankan untuk pembaca di bawah umur. Dalam cerita mungkin digambarkan seks tanpa kondom semata demi kepentingan cerita. Namun saya selalu mendukung hubungan seks aman. Selalu gunakan kondom!

BAGIAN 2

HARREL baru saja hendak menutup matanya untuk tidur saat ponselnya berbunyi. Nomor ponsel Bhayu. Mungkin dia mau bilang kalau sudah sampai di rumah. Tadi Harrel sempat mengirimkan pesan menanyakan apakah Bhayu sudah sampai di rumah atau belum tapi belum ada balasan.

“Halo Bhay?” Sapa Harrel.

“Harrel.. ini mamanya Bhayu… maaf tante telepon kamu…”
Jantung Harrel langsung berdegup kencang. Mama Bhayu meneleponnya dini hari begini dan memakai ponsel Bhayu. Ini pasti ada yang tidak beres. Batin Harrel.

“Iya Tante… kenapa ya?” Tanya Harrel waswas.

“Bhayu.. kecelakaan. Enggak jauh dari rumah. Sekarang ada di rumah sakit…”

Mendadak tubuh Harrel terasa lemas. Dia langsung bangkit dari ranjang lantas menanyakan secara detail kondisi Bhayu dan rumah sakit tempatnya dirawat.

Limabelas menit kemudian, Harrel diantar ayahnya menuju rumah sakit. Di sana dia bertemu dengan mamanya Bhayu. Wajahnya sembab tampak habis menangis. Di ruang gawat darurat, terlihat Bhayu berbaring di ranjang. Seorang perawat sedang membalut kakinya.

“Tante.. gimana Bhayu? Maafin saya tante. Seharusnya tadi saya pulang sendiri gak perlu diantar Bhayu kalau akhirnya begini…”

Mama Bhayu menatap Harrel dingin. Biasanya dia sangat ramah terhadapnya. Entah mengapa malam ini dia terlihat sangat kesal.

“Nah.. kamu tahu kan akibatnya kalau pulang larut? Apalagi Bhayu sampai kecelakaan begini. Kamu gak usah repot-repot ke sini Rel, sebaiknya kamu pulang..” ujar Mama Bhayu dingin.

“Mah! Ini bukan salah Harrel! Orang itu nyeberang tiba-tiba. Bhayu mau ngomong dulu sama Harrel!” Sahut Bhayu dari atas ranjang.
Read the rest of this entry »