Posts Tagged ‘Cerita gay polisi’

HS-3HEART STATION
By: Abang Remy Linguini

Mungkin ada yang penasaran, novel Heart Station itu ceritanya apa ya? Penulis akan posting di sini, siapa tahu ada yang berminat buat beli novelnya. :D

PART 3 – BRONIS GERBONG SATU

Seperti yang kubilang di awal cerita, pagi-pagi aku naik kereta express, sedangkan sore pulang kerja aku memilih menggunakan kereta kelas ekonomi. Selain menghemat ongkos, kereta ekonomi sore hari membuat Waktu tempuh sampai rumah malah lebih cepat kalau aku bisa mengejar jadwal jam setengah enam lewat sepuluh.
Iqbal hampir tidak pernah pulang naik kereta yang sama denganku. Karena dia pulang jam 6 sore, dia naik kereta ekspress jam 6:21. Paling-paling kalau kita habis jalan-jalan sepulang kerja, kita pulang menggunakan bus.
Pengalamanku naik kereta ekonomi, setiap gerbong itu pasti dipenuhi 3B alias Babun-babun Berisik. Julukan itu kuberikan kepada penumpang yang bergerombol, membentuk geng, dan janjian naik gerbong yang sama serta sangat ramai kalau berbicara. Satu geng disini bukan berarti harus orang yang seusia. Bisa saja satu kelompok 3B terdiri dari Cewek SPG yang selalu memakai jeans katrok plus kaus milik adiknya (kekecilan), bapak-bapak setengah baya yang genit dan suka mengambil kesempatan memegang-megang si cewek SPG, Cowok SPB yang kadang-kadang juga pacarnya si cewek SPG, atau kadang ibu-ibu yang kelihatan sudah berumur juga ikut gabung. Pokoknya dalam satu geng itu rupa-rupa deh bentuknya.
Hmm… ternyata penilaianku sedikit salah. Kalau kamu sedikit jeli ketika naik gerbong kereta ekonomi, diantara para 3B pasti terselip cewek-cewek bening dan brondong-brondong cakep yang masih fresh, walaupun termasuk golongan minoritas. Berbeda sekali dengan kereta ekspress dimana jarang sekali ada penumpang cewek bening dan brondong fresh. Karena kebanyakan sudah berumur, berkeluarga dan sudah bekerja lama (tidak termasuk aku lho….) dan mapan yang mampu membeli tiket express setiap hari. (more…)

bangzaki-2SEJAK kejadian malam itu, saat aku memaksa Fendi mengoral kontolku di toilet, aku jadi sering melamun. Entah kulakukan secara naluri atau tidak, aku seperti mencoba menjauh dari pemuda itu sehingga sulit sekali bertemu dengannya. Padahal aku sering melewati butik tas tempat dia bekerja, namun saat aku mencoba mencarinya, sosok Fendi tak pernah kulihat. Mungkin juga dia yang menjauhiku setelah trauma dengan kejadian malam itu. Trauma? tapi anak itu bilang terima kasih! terima kasih karena sudah kupaksa menelan pejuh? yang benar saja! pasti dia cuma basa-basi. Aku langsung membayangkan Fendi yang keluar dari toilet langsung berlari sambil menangis tersedu-sedu.

“Bro…? bro… dumbelnya dipake nggak?” pertanyaan Abdul membuyarkan lamunanku.

“Oh? eh? enggak. Gue udah selesai,” jawabku sambil bangkit dan mengusap keringatku dengan handuk. (more…)

1479417_475010889283088_301489638_nAKU masih menunggu Mas Bima menjelaskan soal kabar kurang bagus yang hendak dia ceritakan.

“Kabar apaan sih, Mas?” tanyaku lagi.

“Mas mau… ehm, Mas ada rencana ditugasin untuk pendidikan selama setahun di kota lain…” ujar Mas Bima pelan.

“Apa? bukannya Mas Bima baru ditugasin di sini ya?”

“Secara teknis, Mas masih ditugasin di sini. Tapi Mas ditunjuk untuk ikut pendidikan, otomatis Mas enggak tugas di sini sementara, tapi tinggal di mess selama pendidikan.”

“Jadi, Mas mau pergi gitu?” tanyaku hampir menangis.

“Iya, Fin…” jawab Mas Bima lemah. (more…)

943019_472652182852292_703804422_nSEJAK peristiwa tak diangkatnya telepon dari Mbak Tika, istri Mas Bima, rasa bersalah timbul dalam hatiku. Mulai saat itu, setelah Mas Bima pergi dari kost-an ku, aku mulai enggan menghubunginya. Beberapak kali Mas Bima mencoba meneleponku, namun aku malas mengangkatnya. Pesan singkatnya juga malas-malasan kubalas. Sungguh, aku merasa tak enak dengan Mbak Tika.

Aku masih menekan-nekan remote televisi tak tahu acara apa yang akan aku tonton. Pikiranku sedang melayang ke mana-mana. Di satu sisi, aku sangat merindukan Mas Bima. Sisi lainnya mengusikku bahwa aku seharusnya tak menghubunginya lagi jika masih sayang dengan Mbak Tika. Tapi.. bagaimana kalau misalnya Mas Bima ternyata mencari ‘tambatan lain’ untuk melabuhkan penisnya. “Aaarrrghh….” aku mengacak-acak rambutku sendiri ogah membayangkan Mas Bima bersama lelaki lain. Cemburu! sangat cemburu. (more…)

27721_116235415070521_100000521883354_183171_4923177_nMATAKU terkantuk-kantuk menatap detik jam weker yang sedari tadi kupegang di atas ranjang. Rasanya tiap gerakan jarum penunjuk detiknya terasa lama sekali. Bodohnya aku! tadi malahan tidak sempat menanyakan nomor hape Mas Bima saat dia datang. Sekarang, malahan aku yang tersiksa karena sudah hampir jam sebelas malam belum ada tanda-tanda Mas Bima akan datang.

Aku memukul-mukul kasur kesal. Ah! apa mungkin kedatangan Mas Bima tadi sore cuma mimpi ya? Arrrgggh… aku mengacak-acak sprei kesal. Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu.

“Fin.. Findra…”

Suara ibu kos. Tumben.

“Ya, Bu?”

Ternyata Mas Bima datang ditemani ibu kos. Aku mendelik sedikit kesal pada Mas Bima. Tapi hatiku langsung meleleh melihatnya datang dengan jeans, kaus hitam ketat yang membuat dada bidangnya membusung, dan jaket kulit yang membuatnya tampak keren! (more…)

hot dennis trillo temptation of wife as marcelRASANYA aku pantas mendapat pujian atas aktingku yang sekuat tenaga bersikap biasa-biasa saja setelah peristiwa malam itu saat Mas Bima merenggut keperawananku. Keeseokan harinya, kami bersikap seolah tak terjadi apa-apa. Malah terlalu biasa sampai-sampai aku sedikit kesal dengan “amnesia” nya Mas Bima karena menganggap peristiwa yang bagiku sangat penting itu terlihat tak istimewa baginya. (more…)

1013213_411040119004631_1728410399_nAKU mengenal mas Bima hanya karena dia adalah suami dari kakak sepupuku mbak Tika. Saat mereka menikah dua tahun lalu, aku sudah mengagumi mas Bima yang polisi itu karena kegagahan dan ketampanannya. Tentu saja aku hanya berani mengagumi karena diriku yang pemalu ini tak berani kenal lebih dekat dengan mas Bima. Padahal aku dengan mbak Tika walaupun hanya sepupu, dia sudah seperti kakakku sendiri yang memang anak tunggal ini. Sayang, selepas menikahi mas Bima, mbak Tika harus ikut suaminya keluar kota sehingga aku jarang bertemu dengannya. Paling-paling jika ada keluarga yang menikah atau di hari raya, mbak Tika dan suaminya barulah datang ke kotaku. Bodohnya, momen-momen itu tak kumanfaatkan untuk lebih mengenal Mas Bima yang kukagumi.

Tak pernah akan kulupakan momen pertama mbak Tika mengenalkan mas Bima ke keluargaku . Mbak Tika sudah menganggap kedua orangtuaku seperti orangtuanya sendiri, itulah sebabnya, untuk menghormati mereka, Mbak Tika seperti harus meminta pendapat dari papa dan mama mengenai calon suaminya. Aku diam saja saat menjabat tangan Mas Bima yang tampak gagah dengan tubuh tinggi atletisnya. Pasti dia menganggapku sombong karena tak mau menatap wajahnya. Padahal bukan karena itu, aku sebenarnya malu dan tak ingin terlihat tersipu. (more…)